Tentang Memuji Brand.

Kadang2 di Twitter gw suka memuji brand/produk/jasa tertentu, dan biasanya selalu ada aja yang nuduh “twit berbayar”, padahal gw beneran memuji tanpa dibayar.

Gw juga pernah denger orang bilang, “Ih, males amat gw muji brand tertentu kalo gak dibayar, kan mereka jadi dapet promosi gratis”, dengan nada dan paras pamrihan. (Kebayang gak elu ‘paras pamrih’?)

Kalo prinsip pribadi gw, “fair” aja sih. Kalo gw gak segan2 mencela, mengkritik produk dan layanan yang jelek , maka to be fair harusnya juga gw nggak segan untuk memuji ketika merasakan produk dan layanan yang bagus.

Pertimbangan gw lainnya, selain “fairness”, adalah: sebenernya kita diuntungkan kalo kita nggak pelit memuji brand, biarpun nggak dibayar! Kok bisa? Nih gw jelasin prinsip sederhananya.

Kalo kita hepi dengan produk/jasa yang bagus, entah itu elektronik, restoran, baju, toko, dll, tentunya kita pengen produk/jasa yang bagus itu ada terus di masa depan, iya nggak? Misal nih, Ketika gw hepi banget dengan makanan dan layanan suatu restoran, artinya gw pengen restoran ini tetap ada di masa depan, supaya gw bisa balik lagi. Nah, dengan kita bantu promosiin, restoran ini semoga tetap/tambah ramai dikunjungi, bisnisnya makin baik, dan jadinya bisa tetap eksis. Simple, kan?

Dan prinsip yang sama berlaku dengan produk/jasa lainnya yang kita gunakan. Entah itu handphone, bank, sepatu, salon, dan lain-lainnya. Kalo kita hepi dengan suatu brand, kita juga diuntungkan kalo brand tersebut gak bangkrut keesokan harinya, jadi gak ada salahnya membantu mempromosikan bisnisnya, biarpuh gak dibayar. Selain itu, dengan pujian, pihak produsen juga mendapat feedback hal-hal apa yang telah mereka lakukan dengan benar, dan harus tetap dilakukan (selain hal-hal yang harus mereka hentikan, melalui hujatan/kritikan).

Kalau prinsip ini dikembangkan lagi, penerapannya juga bisa lebih dari sekedar barang/jasa komersil. Siapa sih yang nggak cepet ngomel atau ngeledek kalo ada aparat pemerintah/wakil rakyat yang korup atau ngaco? (Renovasi ruang rapat Banggar, anyone?) Dan inilah satu anugerah Reformasi, ketika kita bebas mengkritik, menyindir, memprotes pelanggaran atau penyimpangan pemerintah/parlemen/ yudikatif, tanpa harus was-was. (Buat yang gak pernah ngerasain hidup di Orba, beeuh, salah ngomong dikit tentang pemerintah yang pria bisa berubah jenis kelamin jadi wanita dalam semalem…disunat lagi cyiiin!) Nah, kebebasan ini harusnya dipakainya “fair” juga, menurut gw. Kalo ada yang salah dicela, kalo pas ada yang bagus, ya harusnya dipuji juga. Sekalian buat feedback.

Tapi gw ngerti, tendensi manusia itu lebih gampang ngomel/marah/nyela, daripada memuji. Jadi memang memuji itu perlu latihan kali ya :)

(dan who knows, latihan memuji itu bagus juga untuk relationship. Pacar/istri/suami jangan cuma dimarahin aja kalo bikin salah, tapi dipuji kalo pas melakukan hal yang bagus. Minimal dilempar biskuit….)hihihi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s