Resensi buku “THE GIANT PACK OF LIES”

Bonsoir..!

Selamat malam, gue  ingin berbagi informasi nih dari buku THE GIANT PACK OF LIES. Menyorot kedigdayaan Industri rokok di Indonesia.

Sesungguhnya regulasi pengendalian tembakau tidak mungkin membunuh industri rokok dan pertanian tembakau.Ada puluhan juta penikmat rokok yang siap melanggenggkan pasar rokok. Tak serta merta berhenti hanya karena regulasi. Upaya pengendalian tembakau HANYA akan mengerem laju pertambahan perokok belia serta melindungi publik yang berhak atas udara bersih dan tak boleh dipaksa menghisap asap racun nikotin. Industri rokok mencoba menandingi hasil penelitian tentang bahaya rokok pada kesehatan manusia membayar ilmuawan untuk melakukan pnelitian yang hasilnya dapat dgunakan utk membntah penelitian yg bertentangan. Industri rokok membentuk lembaga riset sendiri yang kemudian disebut Tobacco Industry Research Committe (TIRC). Tugas tim riset ini adalah melakukan riset untuk “wisely answering the challenge of medicine” tidak lain dan tidak bukan ini tujuannya adalah memelihara kontroversi dan membodohi publik nih Strategi industri rokok dalam menghadapi upaya pengendalian tembakau dilakukan melalui berbagai cara.

(1) memanfaatkan perokok setia utk melawan dg dalih bahwa pengendalian akan melanggar hak asas perokok dalam mencari kenikmatan.

(2) menciptakan dan memanfaatkan kontroversi pendapat mengenai rokok antara lain dg menimbulkan keraguan terhadap hasil2 penelitian medik.

(3)memanipulasi data&fakta dg menggunakan media utk kepentingan mereka. Ex:mengemukakan betapa rokok telah menyumbang kepada ekonomi negara.

(4)menyebarkan mitos tentang risiko pengendalian konsumsi rokok bagi kehidupan rkyat kecil. Ex: petani, pedagang rokok, pekerja pabrik rokok

(5) menyuap para politikus yang dianggap mempunyai kekuasaan untuk menentukan dan menghalangi kebijakan pengendalian konsumsi rokok.

Diantara negara Asia dan anggota OKI, hanya Indonesia yg tidak menandatangi/mengaksesi FCTC. padahal awalnya ikut menyusun rancangan FCTC. Sampai pertengahan th 2011, 174 negara dari 193 negara anggota WHO sudah menandatangi FCTC. China, Kuba , Rusia, Korea Vietnam pun sudah. Bodoh saja bagi mereka yang mengira bahwa negara2 itu tunduk pd tekanan kapitalis. Politisi diparlemen kita bilang, bahwa FCTC dan pengaturan konsumsi rokok merupakan desakan kapitalis. so, kalo gini siapa yang kapitalis?!

Pemerintah kita ternyata telah melakukan kebijakan diskriminatif terhadap pengaturan produk yang dianggap adiktif. Perhatikan ! saat membuat aturan tentang alkohol, adakah mereka menganggap pelaku industri minuman alkohol sebagai stakeholder?. Perhatikan ! saat membuat aturan tentang ganja sebagai bahaya, adakah mereka berbicara dg petani ganja di Aceh ?Perbedaan sikap sangat kentara ketika mau membahas tentang regulasi pengendalian tembakau, RUU, RPP. FCTC, dll. Ini jelas terbukti dan menunjukan bahwa DESAKAN Indutri ROKOK telah berhasil melemahkan mental pejabat dan politikus RI.

*tepuk2pipi* Sadar kawan, kita menghadapi strategi dilute, delay dan delete yang dilakukan oleh Industri rokok terhadap upaya pengendalian.Industri rokok di Indonesia melakukan berbagai pembohongan, manipulasi data dan fakta dengan kekuatan uangnya yang nyaris tak terbatas. Opini publik digiring ke level Ekstrem, regulasi ditegakkan maka industri rokok akan mati besok pagi, sehingga jutaan orang kehilangan pencaharian. ahh, berlebihan sekali Industri ini T__T. Kekhawatiran yg berlebihan, simplistik dan tidak realistis ya guys 😀

Secara ada puluhan juta orang Indonesia sudah kecanduan rokok. tenang aja, pasar rokok ga bakal sepi koq. Mustahil banget kalo pecandu rokok itu bakal berhenti merokok hanya karena ada Regulasi pengendalian konsumsi rokok. Industri rokok banting tulang untuk membangun citra yang gemilang dan kinclong dimata publik. Caranya baik lewat iklan, sponsorship, maupun aneka ragam program kegiatan CSR, tanggung jawab sosial perusahaan. Selain menyerap banyak tenaga kerja, mereka juga mencitrakan sebagai pahlawan yg memberi sumbangan besar thdp pendapatan negara. Gak peduli tuh si Industri rokok apakah kontribusinya berimbang dengan biaya kesehatan dan kualitas produktivitas bangsa.

Piramida Industri rokok teramat runcing. aliran keuntungan hanya membanjiri segelintir juragan2 yg menjdi langganan daftar orang kaya di majalah. Selain pemilik industri rokok, biro iklan dan media juga mendpatkan potongan gede lho. Ah, coba liat piramida dilapis bawah. miris.. buruh pabrik, petani tembakau cuma dapet remahan keuntungan dari produksi ini. Para pelinting yg terpapar langsung dengan nikotin ditempat kerja bahkan bekerja tanpa tunjangan kesehatan.

Yuukkk kita liat kondisi piramida paling bawah dari industri rokok —-> petani dan buruh pabrik. Buruh diberi jatah melinting 2500 batang rokok sehari. upahnya Rp. 9000/1000 batang. sebulan mereka dapat Rp. 540.000. Kalo disetarakan dengan UMR disana yang besarnya Rp. 802.000 masih jauh untuk mensejahterakan mereka. Upah ini mereka dapatkan dengan harus bekerja setiap hari. ga boleh absen krn sakit, apalagi bolos. (kalo gue bolos kuliah msh dpt ongkos..hehe)

Bicara tentang Petaninya, hmm ga kalah miris dengan buruh pabrik :(. Buruh tani di Kendal, Jateng : upah Rp. 15.889/hari atau Rp. 413.374/bulan, kasian angkanya ga sampe separuh UMR Rp. 883.699. Kalo di bojonegoro upah Rp. 17.256/hari atau Rp. 451.656/bulan, sementara UMR nya Rp. 630.000 Haduuh, lagi2 lebih banyak dari UMR nya :(. Lain lagi di Lombok, upah Rp. 13.920/hari atau Rp. 361.920/bulan, kurang dari UMR yang Rp. 730.000 sebulannya. #nocoment

maaf guys.. itu tadi buruh taninya, sekarang petaninya nih…*simak*

Biaya produksi tanaman ini mencapai Rp. 8.386/m persegi lahan sekali masa tanam, hasilnya Rp. 12.448. jadi cuma dpt untung Rp. 4000/m lahan. Masih ada lagi persoalan yg dihadapi petani tembakau. contoh kasus pada 2 musim tanam terakhir,2009 &2010, petani tembaku di lombok RUGI. Penyebabnya:

1. hrga bahan bakar melonjak sehingga keseluruhan ongkos tanam juga ikutan.

2. fluktuasi cuaca yg ekstrim sehingga tanaman tembakau tidak tumbuh optimal.

Rentang harga daun tembaau bisa teramat lebar, yakni Rp. 40.000 utk grade A, dan Rp. 4000 untk grade D. Cilaka duabelas buat petani tuh :(. Patokan grade daun tembakau ditentukan oleh tengkulak dan pengepul. mereka seenak udelnya memainkan harga. *tonjoktengkulak*

Curhatan petani : “kami ini nanem tembakau dg modal utang. harusnya pemerintah yg netepin harga. bukan seenaknya cukong, pemerintah bisa memberi sanksi klo ada pengusaha yang menolak, atau tutup gudangnya, ap pemerintah tkut sama cukong?” bgitu katanya. Petani tembaku berada dalam posisi tak berdaya. Mereka bagai terjerat lingkaran setan. Lazimnya, modal tanam tembakau didapat dari utang, atau jika tidak mereka harus menjual atau menggadaikan aset keluarga. Padahal hasil panennya masih Gambling. kalo lagi mujur kebayar utangnya. nah kalo nggak, gimana?! #mikir

Kepastian tengkulak membeli hasil panennya merupakan hidup mati para petani. makanya petani mudah dimobilisasi utk berdemo. Mereka malah bayar Rp. 150.000 untuk ongkos berdemo sewa bis. ancamanya kalo ga bayar dan ikut demo tembakau nya ga dibeli cukong.

idiiiihhh… *jitak cukong*

Sebenernya produksi tembakau di Indonesia masih belum mencukupi kebutuhan lokal yang kian pesat 160.000-190.000 ton/thn. Alih2 menguatkan daya tawar petani dan memacu produksi tembakau, akhirnya industri melakukan jalan pintas. IMPOR. dan IMPOR ini terus tnggi. Dari situ bisa disimpulkan bahwa klaim industri rokok yg memeprjuangkan kesejahteraan buruh pabrik, buruh tani dan petani TERGOYAKAN. Klaim bahwa industri rokok memperkokoh perekonomian kita semakin goyah jika melihat besarnya ongkos kesehatan yang ditanggung publik. Ongkos kesehatan yg ditnggung publik tak akan bisa ditandingi oleh triliunan rupiah dari cukai rokok. Tahun 2010, 62 triliun kontribusi cukai untuk Indonesia. namun sayang, itu dibayarkan oleh PUBLIK alias perokok. BUKAN OLEH INDUSTRI *sadar*

Menjajakan rokok seperti produk coklat tanpa dosa. harus di evaluasi, dikritik dan diperbaiki dg menempatkan publik sebgi pertimbangan utama. kekuatan lobi industri rokok memang sudah tidak terbantah. di Amerika pun terjadi. industri rokok memiliki akses figur2 yg dihrmati publik dari mulai perdana menteri Margaret Thatcher sampai senator Howard Baker. Di Indonesia gak kalah seru. Seorang wartawan kompas menemukan mobil berplat polisi 234(dji sam soe) mondar2 di parkiran Istana. Namun saat kedekatan SBY dengan Boedi Sampoerna diungkit2 dlm kasus Bank Century, mobil itu ga keliatn lgi di parkiran Istana negara. Di dlm dokumen British American Tobacco, seorang petinggi perusahaan ini menyebutkan direktorat bea cukai,dep. keungan RI sbg anak perusahaan. Kedigdayaan lobi dan kedekatan industri dengan penguasa memang kisah yg tak habis2. Ada film “the insider n thank you ofr smoking” film ini mengilham kisah2 dari kedigdayaan lobi2 industri rokok. *saya belum nonton jga*

Publik, memang gampang terpengaruh dan terbawa arus. harus dilindungi dari agresivitas pemasaran rokok. Tidak peduli orang dewasa merokok atau tidak, asal tetap menghormati hak non perokok untuk mendapat udara bersih ! Industri rokok sebagai perusahaan yg menjual produk beracun dan kaya akan Mudharat bagi kesehatan seharusnya LOW PROFILE. Tidak gembar-gembor dan sadar diri, tidak bersikap agresiv dan jumawa. Sayangnya agresivitas industri ini dengan mudah disaksikan oleh jutaan pasang mata, berbagai macam usia dan media. Billboard, poster film, spanduk raksasa, panggung pentas musik dan umbul2 dilapangan olah raga menunjukan kegagahan industri rokok. Tampil berani, mentereng, khas anak muda mencoba ditampil kan dengan kemasan menarik untuk cari mangsa. Tujuan mereka memangsa kaum muda adalah menjaga keberlangsungan pasar hari ini dan esok. #scare. Maka darii itu kenapa kelompok dewasa ga jadi target ideal dari industri rokok. seleranya jga udah ada patokan 😀

Begitu pekat kepungan iklan rokok sampai kita merasa tak ada yang aneh, tak merasa telah dibombardir dari segenap penjuru.
Wujud kepedulian kita untuk mendorong regulasi rokok lebih berpihak pada kesehatan publik. tidak melihat sistim kapitalisme atau apapun ! Dan kesehatan serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab kita. Menuding keterlibatan pihak asing dalam upaya pengendalian tembakau sama saja merendahkan akal sehat & menghina publik utk mendpt hdup sehat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s