Kapan Kawin?

Jadi akhir-akhir ni sempet rame dengan becandaan “Kapan kawin?”

Fenomena pertanyaan ‘Kapan kawin?’ adalah fenomena umum saat pertemuan-pertemuan keluarga ataupun reuni dengan teman. Dan menjelang Lebaran yang penuh dengan silaturahmi, pertanyaan menyebalkan ini biasanya muncul.Which is cukup ironis kalo urutan ngomongnya “Minal Aidin Wal Faidzin ya jeeeung” *cipika cipiki* “Kapan kawin??” (BARU MINTA MAAF UDAH LANGSUNG BIKIN DOSA!! TAMPAR AJA! TAMPAR!)

Pertanyaan ini begitu jamaknya sampai kita mungkin sudah take it for granted, selain ngebecandain dan menyiapkan balasan yang lucu2 (the best balasan buat gw so far: “Kapan kawin? ” “Kapan mati?”) Tapi gw pengen sok menganalisa fenomena ini lebih dalam, dari berbagai aspek.

Analisa: SANG PENANYA

“Kapan kawin?” justru bisa dianalisa dari sisi sang penanya. Latar-belakang dan motivasi penanya bisa memberikan berbagai interpretasi. Contoh:

Jika sang penanya sudah menikah, dan pernikahannya bahagia, arti “Kapan kawin?” adalah: Gua ternyata happy banget menikah, dan gw sayang elu, dan pengen elu bisa ikutan happy….

Tapi kalau sang penanya sudah menikah dan menderita, artinya adalah: Yuk cepetan bergabung dengan penderitaan gw…..

Kalau sang penanya belum menikah, maka maknanya bisa jadi kompetitif: Apa elu belum ada calon? Semoga gw duluan! Najis banget gw disalip sama elu….

Kalau sang penanya belum menikah, jomblo, berjenis kelamin sama dengan yang ditanya, dan kenal dengan pasangan yang ditanya, maka maknanya:WOOHOO! GW MASIH ADA KESEMPATAN DENGAN COWOK/CEWEK ELU!

Kalau sang penanya masih keluarga/teman dekat dengan yang ditanya, dan yang ditanya sebenarnya SUDAH kawin, maka maknanya menjadi: Gua salah apa sampe nggak diundang? Kok elu sombong banget? 😥

Kalau sang penanya adalah sebuah pohon beringin tua, maka artinya sumpah daerah itu angker banget bro. Mending ngibrit buruan, gak usah sok baca2 doa….

Jadi gitu lho guys. Secara psikologis, pertanyaan “Kapan kawin?” justru bisa membuka banyak tentang si penanya!

Tinjauan Filsafat

 ”Kapan kawin?” juga memiliki aspek spiritual dan filsafat. Bagi yang percaya jodoh di tangan Tuhan, maka pertanyaan ini dalem banget, ditujukan bagi Sang Maha Kuasa dan Maha Pengatur Jodoh. Yang ditanya hanyalah medium, karena obyek terakhir dari pertanyaan adalah kehendak dan rencana Tuhan (lebih spesifiknya, “tangan Tuhan” yang konon mencengkeram jodoh kita)

Secara filosofis, “Kapan kawin?” adalah ekspresi ketidakberdayaan manusia menatap masa depan. Jangankan kawin. Bikin janji di Jakarta buat nanti malem/besok aja suka gak jelas nasibnya dengan kemacetan terkutuk ini. Apalagi nanya kapan kawin? Banyak variabel di masa depan yang membuat “rencana kawin” adalah sebuah oxymoron: dari eksistensi calon (“Pokoknya 2012 gw akan kawin! Calonnya siapa? Gak penting! YANG PENTING GW KAWIN TAHUN ITU!”), sampai variabel calon kita berubah pikiran (“Mas, saya ketemu cowok lain yang lebih ganteng dan kaya dari kamu”), sampai ke variabel absurd lainnya – bapaknya bermimpi bahwa kita adalah titisan setan, atau calon kita yang berubah total (“Dinda, ternyata saya adalah seorang wanita di tubuh laki2…”)

Menanyakan “kapan kawin?”, dan berani MENJAWABNYA, adalah sebuah diskursi ketidakpastian dan delusi kendali akan masa depan (mampus gak tuh bahasa gw!)

Analisa Bisnis dan Ekonomi

Pertanyaan “Kapan kawin?” sebenarnya punya aspek bisnis, yang artinya berhubungan dengan ekonomi.

Kawin jelas adalah sebuah “tindakan ekonomi”, karena banyak faktor uang terlibat di dalamnya, bahkan sejak pemilihan pasangan (Bokapnya tajir nih, udah gagal ginjal dan gagal jantung, dan dia anak cewek satu2nya…), sampai segala prosesnya yang melibatkan uang (dari mas kawin, biaya gedung, biaya makanan, biaya undangan mewah yang toh dibuang abis selesai acara, uang “terima kasih sudah melegalkan perkawinan ini di mata Tuhan” untuk penghulu/pendeta/pastor yang menikahkan, biaya sedot lemak menjelang hari H, biaya baju nikah, sampai biaya souvenir yang cuma menuh2in kantong celana/tas selama resepsi).

Maka akurasi dari jawaban “Kapan kawin?” bisa menjadi indikator Produk Domestik Bruto Indonesia selama setahun ke depan. Jadi kira-kira formulanya seperti ini:

(Jumlah pertanyaan “Kapan Kawin?” x Probabilita jawabannya “Tahun depan” dan akurat x Semua biaya yang terkait dengan perkawinan) -(Probabilita perkawinan dibatalkan sehari sebelumnya karena pengantin wanita nangis2 atau pengantin pria kabur ke Kolombia x Biaya perkawinan yang masih bisa dicancel) = Komponen PDB dari Perkawinan Nasional untuk tahun depan.

Demikianlah sebuah tinjauan komprehensif atas pertanyaan sederhana “Kapan kawin?” yang ternyata tidak sesederhana itu. Akhir kata, mohon maaf kalau ada kata yang salah. Jarum patah jangan disimpan di dalam peti, kata yang salah jangan disimpan di dalam hati….

(apa siiih….)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s