Step by Step

 Ada beberapa teman saya yang senang naik gunung. Dahulu, saya selalu bertanya pada mereka “ngapain sih capek capek naik gunung sampai berhari hari menderita gitu.” Dan kemudian, beberapa bulan yang lalu hubungan saya dengan gunung dimulai.

Dan mulailah saya mulai mendaki untuk alasan pekerjaan. Gunung yang pertama kali saya daki adalah Gunung Merapi. Sebenarnya pendakian ke Gunung Merapi sudah pernah saya bahas di postingan blog saya sebelumnya. Namun, pendakian ini amat sangat berkesan untuk saya sehingga tak habis-habisnya ingin dibahas.hihi

Dari lokasi ini, saya menemukan keasikan tersendiri. Memang, mendaki itu capainya minta ampun, dari segi kenyamanan anggap saja hilang.Yang paling utama adalah summit attack, saat saya dan teman teman menuju ke titik puncak sejak dini hari. Perjuangan panjang melewati medan yang cukup sulit ditambah angin kencang dan udara dingin terasa tidak ada habisnya.

Namun akhirnya saya sampai di atas, langsung disambut pendaki lain yang sudah ada disana. Semua yang dikatakan setiap pendaki yang saya temui memang benar “Saat di atas semua rasa lelah itu hilang,” saya menikmati dengan sangat saat momen berada di atas.

Namun, bukan hanya pemandangan yang luar biasa yang membuat berada di puncak itu sedemikian nikmat. Jika tidak ada perjuangan, maka keindahan di puncak hanya keindahan yang dinikmati mata. Jika tidak bersulit sulit dahulu mendaki maka saya hanya akan merasa “Wow keren banget,” dan bukannya “Luar biasa, ini hasilnya.”

Detik-detik kemunculan sunrise

My promise to myself, since I fell in love, I wanna do it again and again.. next trip will be as breath taking and remind me how small I am, hot great is He and how blessed we are to have this..

Saya berada di puncak merapi.

Mendaki gunung itu bagaikan filosofi hidup, untuk mendapatkan sesuatu yang besar, untuk menuju puncak kita harus berjuang, harus mau sulit dan melewati semua proses itu, maka saat berada di puncak kita akan lebih merasa puas dan selalu ingat perjuangan untuk ke atas, tidak takabur.

Saya bayangkan jika saya ke atas dengan instan, katakan saja jika memungkinkan memakai helikopter, kurang dari setengah jam sudah di puncak, lihat lihat lokasi dan sudah, tidak merasakan sebagai hal yang luar biasa, tidak akan menghargai perjuangan.

Bukannya saya apatis dengan kesuksesan instan, namun my dear, hasil yang diperoleh dengan bekerja selangkah demi selangkah itu saya percaya akan lebih bertahan lama, akan membentuk mental dan membuat kita sadar diri akan jalan yang telah kita tempuh.

Di laut saya diajarkan untuk sadar sebagai bagian kecil dari semesta yang luar biasa indah, di gunung saya diajarkan bahwa di atas bukan berarti bisa takabur, bahwa semua ada prosesnya, dan kita tidak bisa tinggal di puncak gunung selamanya.

As deep as ocean can be, as high as mountain to hike, we are human meant to live on the ground with Mother Nature. Go deep, aim high and never forget where we start. Godspeed!

@NcisLuscious – not yet on top of her roller coaster life.

 

 

Tentang Infotainmen dan “Mata Uang Sosial”

Salah satu kebiasaan setiap pagi, setelah bangun tidur dan pipis kira-kira 300 ml, adalah sarapan sambil nonton tipi. Dulu-dulu gw sering nonton berita. Tetapi karena makin lama berita tentang Indonesia seringan bikin stres, akhirnya gw pindah ke program infotainmen. Tentunya gw nonton sambil ngetwit ya. Walhasil, beberapa kali gw terima mentionan seperti ini:

“Kok tontonannya infotainmen?”

Lho, emang kenapa? Kesannya hina begitu… emang salah ya?

Tapi gw jadi mikir juga sih, kenapa acara infotainmen cukup ‘laku’ ya.

Sebenernya fenomena gosip, baik itu ngegosipin orang di sekitar kita, maupun artis, sudah dicoba dibahas oleh dunia sains. Menurut evolutionary psychology, kebiasaan bergosip adalah kebiasaan purba yang sudah dilakukan nenek moyang kita sejak puluhan ribu tahun lalu. Dahulu bergosip memiliki manfaat penting untuk spesies manusia yang cenderung makhluk komunal (berkelompok), karena dengan bergosip kita saling memberi-tahu siapa yang jahat, yang malas, yang tukang mencuri, dan pemilik kebiasaan jelek lain yang bisa merugikan kelangsungan hidup kelompok. Gosip juga bisa menjadi mekanisme untuk membuat si manusia purba mengurungkan niat (deterrence) melakukan hal-hal yang egois dan merugikan orang lain. “Gw pengen sih mencuri pisangnya tetangga, tapi kalo ketauan gw bakal diomongin sebagai maling, males banget…”

Konon, mekanisme gosip yang dilakukan selama puluhan ribuan tahun ini akhirnya menjadi “software” di otak manusia yang susah dihilangkan, walaupun kita sekarang sudah hidup di era internet, smartphone, dan Instagram. Dan karenanya, kebiasaan itu tetap hidup sampai sekarang – bahkan mungkin menemukan medium baru dengan acara infotainment, BBM, dan social media seperti Twitter dan Facebook.

Gw pribadi melihat beberapa alasan lainnya kenapa orang menggemari acara infotainmen.

Kita semua senang dengan “cerita” (story). Dengan cerita, kisah, legenda, kita mencoba memaknai hidup ini. Saat kita melihat kisah seorang artis sukses yang memulai hidupnya dari bawah, kita merasa ada harapan untuk kita bisa mengalami rejeki yang sama. “Kalo Sule aja bisa sukses, ya masak gw yang kece dan gaul bangets gini gak bisa?!” Saat kita melihat seorang artis yang mengalami kesialan, kita ikut-ikutan menghakimi dengan mencoba mencari ‘penjelasan’: “Rasain, dulunya songong sih, sekarang kena karma deh”, dst, dst.

Tanpa sadar, kita mengharapkan adanya morale of the story dalam mengikuti kisah-kisah artis yang ditayangkan infotainmen. Kita mengharapkan kesuksesan bagi si artis yang (terkesan) jujur, ramah, tidak sombong, dan bekerja keras. Diam-diam kita mengharapkan kesialan untuk artis yang curang, selingkuh, belagu, dll. Tanpa kita sadari, kita berharap adajustice, keadilan di dalam kisah-kisah artis. Perjalanan hidup artis membantu kita memberi makna, penjelasan, dan keteraturan kepada realita yang chaotic ini.

Tapi ada juga ‘faedah’ infotainmen lain yang gw liat. yaitu sebagai ‘mata uang’(currency). Bingung gak?

Maksud gw dengan ‘mata uang’ adalah, gosip artis bisa menjadi mata uang dalam pergaulan dan bersosialisasi. Kalo gak percaya, perhatiin kalo cewek-cewek udah pada ngumpul. Paling gampang buat memulai obrolan seru, ya dengan ngebahas gosip artis (“Eh udah denger kalo si Loli putus lagi?”, “Gw heran Yuni Shara masih aja betah sama si berondong gatel itu”, “Udah liat tas terbarunya Angel Lelga?”, dll, dll). Sesudah itu, obrolan jadi lancar  dan seru deh. Dan inilah yang gw rasakan sendiri kalo pagi-pagi ngetwit sambil nonton infotainmen. Yang nyamber buset dah, banyak dan kenceng! Emang lebih gampang buat gw nyari bahan obrolan di Twitter tentang Anang, Ashanty, Cherrybelle, daripada gw ngebahas penemuan fisika kuantum terakhir (selain karena Anisa Cherrybelle lebih enak dipandang dari bahasan fisika kuantum, gw gak ngerti juga sih soal fisika kuantum….)

Jadi mungkin fenomena infotainmen menjadi laku bukan karena kitanya peduli-peduli amat dengan kehidupan si artis, tapi karena kita butuh “mata uang” untuk bisa ber’transaksi sosial’ dengan orang di sekitar kita. Dan layaknya mata uang, yang paling banyak tahu gosip artis biasanya juga merasa ‘paling kaya’, karena bisa share cerita lebih banyak (“Hah? Elu belom denger soal si anu? Ke mana aja loe??”) Motivasi terutama mengikuti infotainmen bukan karena kepo, tetapi untuk memenuhi kebutuhan kita bersosialisasi dengan orang lain.

Yah begitulah analisa super gak penting gw soal kebiasaan orang nonton infotainmen. Sebenernya ini cuma nyari alasan aja sih biar gw gak dicela terus :p

Rollin’ at Taman Sari

Hello world! Gimana nyh yang pada long week end ngapai aja. hehe…well mau curhat dikit ni kemana saja saya selama long weekend ini. Tidak seperti yang lainnya yang memanfaatkan jatah long weekend sampai habis, saya dan teman-teman justru sengaja mengambil hari yang gag weekend dengan alasan klasik, menghindari macet.

Alhasil saya dan teman-teman yaitu Opank, Bagas dan Silvi meluncur ke kota terdekat yaitu Yogyakarta pada hari rabu malam dan kembali ke semarang kamis malamnya. Singkat ya? Tapi saya rasa itu pilihan yang tepat bagi kami karena disisa weekend yang ada kami gunakan untuk bermalas-malasan di rumah. 🙂

Liburan kali ini tidak kami gunakan untuk mengeksplor kota Jogja, kami mengkhususkan untuk mengunjungi teman kami  si Harry sekalian bermain inline bareng anak Jogja.

Walaupun singkat tapi kami rasanya sudah puas, yang penting kan kualitasnya. Hehe

Inilah beberapa dokumentasi singkat perjalanan kami.

Suasana Jogja setelah diguyur hujan

 

Sesampainya di Jogja kami langsung menuju Monumen Satu Maret untuk bertemu anak-anak inline Jogja. Jogja malam itu sedikit dingin setelah diguyur hujan.

Esoknya kami memutuskan untuk bermain inline di Taman Sari.

Saya, Opank dan Silvi

 

Saya, Bagas dan Silvi

 

Berpose di salah satu sudut masjid di area Taman Sari yang begitu sesak pengunjung.

 

Tetap semangat berfoto-foto walaupun panas gila!

 

Sedikit bergaya ala lady rocker atau apalah namanya. keep raawrk!

 

Gayanya syh sok-sokan berjemur. haha :p

 

Let’s start the party guys!

 

Opank

 

meeeee !!

 

Bagas…i love his trick! cool!

 

Silvi

 

saya lagi pemirsa, tentunya dengan trick yang berbeda. hihi

 

Opank

 

Lagi demen sama trick ini 🙂

 

Go.. go… go… freestyle slalom skater !

 

Yup! begitulah sedikit aksi kami meluncur di Taman Sari. sooo fun! Kapan-kapan pengen lagu tapi dengan personil yang jauh lebih lengkap.

Eiits belum kelar lho…

Jangan bosen-bosen liat saya yaah.haha

 

i love this shoot 😀

 

Silvi, Bagas and me

 

Panggung terbuka di area Taman Sari

 

Ngadem dulu abis berkeringat nan sekseeh :p

 

Tampang-tampang kelaparan tingkat akut.

 

Sekian perjalanan singkat kami yang menyenangkan. Semoga lain waktu personilnya bisa lengkap n mas pacar bisa ikutan di acara jalan-jalan berikutnya. hahaha 😀

HEEPIII LONG WEEKEND EVERY BODYYYYHHH! 😀

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jangan Seperti Truk Sampah

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja membaca sebuah cerita yang menarik. Cerita ini, walaupun sederhana, bisa memberikan pelajaran yang berharga untuk kita agar hidup lebih bahagia. Selamat membaca dan jangan lagi anda menjadi truk sampah

“Suatu hari, ada seorang pemuda yang baru turun dari pesawat. Kemudian dia naik di salah satu taksi yang ada di bandara itu. Hari yang melelahkan, pikirnya. Mereka mengobrol sebentar. Sopir taksi itu cukup ramah.

Ketika taksi baru saja berjalan keluar dari bandara, tiba-tiba muncul sebuah sedan hitam. Mobil hitam ini bermaksud untuk menyalib taksi tersebut. Ciiiiitttt!!!!!!! Sopir taksi segera menginjak rem. Hening.

Taksi berhenti tepat 1 inchi dari mobil hitam tersebut. Penumpang nya bernapas lega. Tiba-tiba pengendara mobil hitam menurunkan kaca mobilnya. Lalu ia berteriak dan marah-marah terhadap sopir taksi tersebut.

Si penumpang pun ikut naik darah. “Orang ini, sudah salah, marah-marah pula” pikirnya. Anehnya, sopir taksi bereaksi dengan tidak lazim. Ia hanya tersenyum dan melambai kepada pengemudi ugal-ugalan tersebut. Mobil hitam itu lalu berlalu. Si penumpang pun heran. Ia bertanya kepada sopir taksi.

“Pak, kenapa anda tidak balas marah? Malah tersenyum? “
“Saya tidak mau jadi truk sampah, mas. ”
“Truk sampah? “
“Iya. Sadar atau tidak, banyak orang yang sedang menjadi truk sampah. Mereka membawa sampah ke mana-mana. Dan ketika sampahnya penuh, mereka butuh tempat untuk menurunkan sampahnya.”
“Maksudnya pak?”
“Orang-orang selalu membawa sampahnya ke mana-mana. Rasa frustasi, kemarahan, kekecewaan. Perasaan-perasaan negatif yang tidak bermanfaat.Dan ketika bak sampahnya penuh dan sesak, mereka butuh tempat untuk menumpahkan sampahnya.
Penumpang mengangguk, mulai mengerti maksud sopir tersebut.
“Dan saya tidak mau memungut kembali sampah orang tadi. Saya bukan truk sampah” ,kata pak sopir sambil memamerkan senyumnya.

Nah,sekian ceritanya. Disadari atau tidak, kita sering pula menjadi truk sampah. Kita membawa sampah kita yang berbau busuk ke mana-mana. Ketika sampah itu penuh, kita langsung membuangnya (baca: melampiaskan) ke orang lain.

Di zaman sekarang, tingkat stress masyarakat semakin tinggi. Sampahnya semakin penuh. Hal-hal kecil bisa menyulut mereka untuk menumpahkan sampahnya. Cara menumpahkan sampahnya pun bermacam-macam, dari cara yang menyebalkan sampai cara yang fatal. Lihat saja ketika jalanan sedang macet, ketika serempetan kendaraan atau saat adu mulut karena hal-hal sepele.

So, berhentilah jadi truk sampah. Truk sampah tidak pernah bahagia. Dan tidak pernah menemukan solusi sukses nya. Berhenti memungut kembali(baca : ikut bereaksi negatif) sampah orang lain. Dunia ini akan terlihat lebih indah. Jadikan hidup anda lebih lega dan bahagia

Sumber : e-mail dari seorang teman.

Gula Gula Gula

Gula-Gula

Ah. Saya suka, karena denganmu, saya tak berlama-lama menyimpan kata seandainya.

Karena kamu, kamu merupa gula-gula jeli berbentuk lucu berwarna-warni yang selalu menyenangkan untuk dipandangi itu. Yang manis menyegarkan dan bisa membuat sakit gigi jika berlebihan dikonsumsi, tetapi tetap saja menggoda untuk dibeli, karena warna-warni cerahnya selalu berhasil membuat ceria hari-hari. Bahkan seorang teman saya tahu hal ini, karena ia pernah menghadiahi saya satu kantung plastik gula-gula jeli berwarna-warni, hanya untuk membuat saya tersenyum-senyum sendiri sepanjang hari.

 

Jadi jangan tanya mengapa kamu bisa membuat saya tertawa. Atau menangis. Atau tertawa sampai menangis, bahkan menangis untuk kemudian disela tawa terbahak hanya karena mengingat momen menyenangkan bersamamu. Jangan tanya juga mengapa kamu–ya, hanya kamu, yang bisa membangunkan saya dari tidur lelap di malam hari, hanya untuk merasa bahagia mendengarkan suaramu yang tertawa, untuk kemudian bisa tertidur lagi; bahkan lebih lelap dari sebelumnya…

Meskipun saya masih tetap saja tak bisa menjawab setiap kali kamu bertanya ‘mengapa’, tetapi saya bahagia. Tidakkah yang sedemikian itu sudah cukup menenangkan untuk kamu ketahui, sebagaimana sudah cukup menyenangkan bagi saya hanya untuk melihatmu melintas sendiri pada suatu paruh malam; berjalan sambil tersenyum lebar, menghampiri tempat di mana saya berpijak, untuk kemudian bertanya, akan ke mana kita dari sini?

Iya. Kamu.

 

Pahlawan Di Mataku

Today, I stumbled upon an article in The Jakarta Post from the year 2005. Jadul banget ya, sekarang aja udah tahun 2012. Hehe .. well, tapi berkat Koran ini jadi dapet inspirasi buat nulis. Apalagi beberapa hari yang lalu ada penghargaan untuk Bung Karno dan Bung Hatta sebagai pahlawan nasional. Rasanya sedikit terlambat ya baru diberi penghargaan sekarang. Mumpung masih anget, saya jadi ingin membahas tentang pahlawan. Hmm…Generally speaking, I believe a hero is simply someone who is willing to help others without asking for recognition. I also believe there are real-life heroes among us, but that we are often too busy to recognize them.

I once saw a street musician help a middle-aged woman who fell from a moving minivan. A vendor helped a friend of mine who fainted inside a train, and even found a car to take her home.

And a friend told me of her cousin who wanted to commit suicide, but changed her mind after hearing the song Heaven on the radio.

These people offered help not because they wanted recognition — how could the DJ know the song would help my friend’s cousin — but simply because they were at the right place at the right time.

So I think a hero is someone who never considers himself a hero, and perhaps does not even realize they have done a heroic deed. Most of the time, a hero is simply a stranger who gives you a genuine smile and brightens your day.

Who’s your modern-day hero? 😉

 

Waktu

24 Hours a Day

Have you ever experienced this, at least for once in your lifetime?

You don’t feel like doing anything
Things that you love to do, suddenly are no longer appealing
… You change. You’ve become a stranger to yourself.

Then when you start to get back on your track
And get excited on things that you used to love and longed to do
Suddenly the world turns busy
And you don’t have time to touch those things

What a pity
Shouldn’t we all have time to do things that we love?

How do you divide 24 hours a day into work, read newspapers, read book(s), write (anything), meet friends, watch movies, go to theater play, etc etc.. yet still able to help others and do your own so called social responsibility?? (it’s known as Corporate Social Responsibility in business term, but I call it as Personal Social Responsibility)
Sometimes I feel 24 hours a day are not enough.
What do you think?

Pada Sebuah “Ketika”

Pada Sebuah “Ketika”

 

Lebih dari segalanya, waktu. Hanya waktu.

Dan kita memang sudah sejak dulu. Kamu tahu. Menikmati setiap jeda, setiap jenak, setiap lalu kala menunggu. Sebaris senyap dalam kata-kata yang tergugu. Tidak terburu. Tidak jemu-jemu meski yang kita lakukan tidaklah lebih hebat dari sekadar menunggui sebatang rokok bertransformasi menjadi abu. Kita mungkin terikat dalam erat yang terlalu. Begitukah menurutmu?

Bukan cinta. Atau kecupan lewat kala senja. Tapi waktu.

Semakin singkat. Ingatan fotografis semakin tak bisa diandalkan ketika jejak-jejak mulai berkarat. Dan kamu tahu karat itu hama seperti binatang pengerat. Saya tidak lagi ingin kamu dalam satu kerat. Tidak cukup kuat. Imajimu tidak bisa menjelma nyata hanya dalam nyala lampu 25 watt. Dan waktu tersaruk-saruk di belakang kita dengan langkah-langkah berat.

Hanya waktu. Apakah aku meminta terlalu banyak?

[Tidak, kamu meminta terlalu sedikit. Kecanduan akan waktu ini seperti penyakit, sementara rentang hidup semakin sempit.]

Bisakah kita melahap bintang-bintang dengan mata saja? Pada sebuah ketika di mana akhirnya langit kita berbagi warna serupa. Ketika jendela tak perlu menjelma perantara untuk mengantarkan bingkisan kata-kata. Kedipan bulu mata adalah nyata. Setiap geraknya. Setiap helainya. Tanpa sela. Tanpa cela.

Sempurna.

Ini tak akan bertahan selamanya.

Aku tahu.

Cuma sementara.

Aku tahu.

Jika begitu, mengapa masih kau katakan sempurna?

Karena aku tidak meminta selalu.

Aku cuma minta secukupnya waktu.

Hanya waktu.

Untuk mencintaimu.

10 Alasan Mengapa Hingga saat ini Saya Tidak Menggunakan BlackBerry (BB)

Postingan ini iseng saya buat ketika hampir sebagian besar teman-teman saya sekarang menggunakan BlackBerry (BB). Entah kenapa untuk saya pribadi tak ada menariknya sama sekali beralih ke BB, masih mending android kalau saya diharuskan memilih.

Inilah 10 Alasan Mengapa Hingga saat ini Saya Tidak Menggunakan BlackBerry (BB)

 

  1. Karena hampir semua orang memakai BB, jadi nggak stands out kalau ikutan pakai BB
  2. Tidak mau ikut-ikutan menanyai semua orang “PIN BB lo berapa?” seakan-akan semua orang di dunia menggunakan BB
  3. Karena tidak diwajibkan
  4. Karena masih bisa telponan, SMS-an, cek email, Y!M-an, Twitter-an, atau internetan tanpa BB
  5. Singkatan BB mengingatkan saya pada ‘Bau Badan’ dan membuat saya ilfil
  6. Karena tidak suka membuka akses terhadap diri sendiri selama 24 jam–padahal itulah ide besar BB, yang jadi mubazir kalau hanya aktif 8 jam sehari
  7. Karena suka mabuk darat jika messenger-an di jalan, maka fitur BBM (BlackBerry Messenger) tidak berguna untuk membunuh waktu dalam perjalanan dan hanya membuat mual.
  8. Kamera BB jelek, padahal saya sangat suka foto-foto diri sendiri
  9. Karena ingin menunjukkan pada dunia bahwa saya bisa hidup tanpa BB.
  10. Karena pacar saya tidak menggunakan BB 😀

 

Sekian postingan tidak penting dari saya. Tidak ada maksud sama sekali untuk menjelek-jelekan merek tertentu. Murni keisengan pembunuh waktu semata. Hehe :p

and look how far I’ve traveled! :)

Tentu saja, saya masih suka mellow dan menye-menye di kala hujan, menaburkan kata-kata manis dan meromantisasi suasana hati, atau sekadar bercerita tentang hari-hari yang dilewati.  Saya menangis, tertawa, patah hati, jatuh cinta… di sini. Kebodohan-kebodohan saya di masa lalu itu juga biarlah terekam semua hingga detik ini. Sebagai penanda bahwa saya pernah bodoh, saya pernah salah, saya pernah melakukan banyak hal yang saya sesali di kemudian hari, dan kemudian menemukan bahwa saya masih berada di sini. Baik-baik saja.

hold my hand. we’ll walk down the slippery world and come out alright. as long as you’re by my side.

Dan untuk semua yang pernah menyentuh kehidupan saya selama 4 tahun belakangan ini dan sempat menghabiskan waktu-waktu senggang mereka di sini, TERIMA KASIH 🙂