A Cup of Coffee

Kamu masih saja menemani cangkir-cangkir kopiku yang kesekian.

Aku selalu bilang bahwa kafein adalah stimulan yang terlalu melankolis. Apalagi ketika diiringi Owl City yang mengalun samar-samar di kejauhan; juga gerimis malam-malam. Rintiknya turun satu-satu seperti air mata. Kadang sulit buatku membedakannya. Sampai kemudian dia turun semakin deras. Dan yang ada bukan lagi hembusan dingin, tapi panas yang membakar. Di mata, pipi, hati… lalu aku akan beringsut turun dari tempat tidur, menyeret langkah ke dapur, dan menyeduh secangkir kopi lagi.

Ada saat-saat di mana kita tidak ingin tertidur. Terkadang ketika kita sedang teramat bahagia. Atau ketika kita sedang teramat sedih. Dan pada saat-saat seperti itu, mengapa selalu saja kamu? Selalu saja kamu yang masih menemaniku pada cangkir-cangkir kopi yang kesekian. Mungkin memang hanya kamu yang mengerti. Mungkin karena kita sudah sejak dulu terjaga bersama setiap akhir pekan. Mungkin karena aku percaya: bahwa walaupun kamu selalu lebih banyak diam, kamu selalu mendengarkan.

Terkadang kamu menemaniku dengan suara jangkrik dari kebun. Atau ributnya kucing-kucing yang sedang kawin. Terkadang cuma ada detik jam. Atau tiang listrik yang dipukul tiga kali. Terkadang kamu usil; mengirimiku tokek yang bersuara dari langit-langit di suatu tempat. Lalu aku akan mulai menghitung. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s