Mission Un-impossible: Search, Find and Use God’s Gift.

le pont 11Orang tua ke anaknya pasti selalu membayangkan masa depan anaknya, bahkan dari anak itu kecil. Meski anaknya baru bisa jalan, orang tua nya sudah membayangkan anaknya jadi dokter, saat bisa lari dibilang jadi atlet, saat coret coret di tembok dibilang bakat jadi seniman, dan seterusnya. Dan kemudian, puluhan tahun berlalu, si anak sudah jadi seseorang yang berbeda total dari apa yang orang tua mereka bayangkan. Yang dulu dibilang bakat jadi seniman sekarang kerja yang sangat teknis, atau mungkin ada yang kebetulan sama dengan apa yang dibayangkan orang tuanya, tapi ini jarang.

Saat kita lulus sekolah dan mengambil jurusan kuliah, kebanyakan berpikir satu hal, jurusan apa yang kerjanya gampang, jurusan apa yang mengakomodir kita untuk daat penghasilan, hidup layak. Dan titik, seringkali minat dikesampingkan dengan alasan itu. Hasilnya, banyak yang pada akhirnya kerja di area yang benar benar berbeda dari kuliah mereka, mereka yang awalnya kerja sesuai jurusan lalu merasa passionnya tidak disitu dan banting setir. Ada juga yang secara tidak sadar menemukan keasikan lain, mengerjakan sesuatu, dan setelah puluhan tahun baru sadar dia punya potensi itu. Misalnya di Masterchef, ada yang sudah jadi pengacara di law firm bagus, tapi baru sadar ia punya potensi masak yang mumpuni.

Kadang hal hal kecil yang kita anggap hobby remeh bisa jadi potensi kita sebenarnya, sering melucu bisa saja jadi stand up comedian beken, suka nulis kalau tidak berani publish tulisan ya cuma akan jadi potensi terpendam saja, masak, gambar, semuanya potensi potensi yang kalau kita sadar kita punya bakat – gift, talented – di area itu, bisa jadi hal yang merubah hidup kita selamanya.. Cuma saja, biasanya kita tidak punya keberanian untuk unjuk potensi itu, bahkan saat kita sadar punya bakat tertentu. Ada teman saya yang dari dulu senang menulis, tulisannya juga bagus, tapi tidak pernah dipublikasikan. Boro boro, bikin blog saja dia tidak mau. Tulisannya cuma dilihat orang orang dekatnya, and until now we never know what would happen if she publish her writings.. Potensinya dipendam dalam dalam karena tidak berani, tidak pede, takut ditolak, semua macam ketakutan itu..

My friend, ditolak itu biasa, jatuh itu belajar, berdiri setelah jatuh itu membuat kita lebih kuat. Kalau kita sudah tahu potensi kita, saatnya berani menggunakannya, sayang kan kalau punya potensi tapi tidak digunakan, seperti punya smart phone paling canggih tapi cuma dipake sms dan telp, meski kalau pake smart phone canggih orang orang masih tau kita punya karena terlihat. Kalau potensi harus digunakan, harus berani unjuk apa yang kita punya juga. If we want big, we should try big, we should fear small. J

ika jalan menuju menemukan potensi dan menggali potensi itu berliku liku? Hey, life is an adventure, you can pick the shortest easy long straight road but still you’ll never know what would happen in the middle of your journey. What’s worth fighting for is yourself. Go find it people!

@NcisLuscious – showing half of her potential while still seeking for her half other potential.