EKSOTISME PURA GUNUNG KAWI #RockOverIndonesia

Hai hai hai ! kali ini saya masih akan membahas perjalanan saya di sekitar Ubud. Berada di Ubud benar-benar menguntungkan karena banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di sekitarnya. Punya waktu banyak atau sedikit semua bisa diatur. Seperti saya yang kali ini tidak punya banyak waktu, sekedar memanfaatkan waktu senggang akhirnya jatuhlah pilihan saya mengunjungi Pura Gunung Kawi. Pura Gunung Kawi terletak di Sungai Pakerisan, Dusun Penangka, Desa Sebatu, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Indonesia. Jalur menuju ke sana merupakan jalur yang sama menuju Istana Tampak Siring. Lokasi candi terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Denpasar dengan perjalanan sekitar 1 jam menggunakan mobil atau motor. Sementara dari Kota Gianyar berjarak sekitar 21 kilometer atau sekitar setengah jam perjalanan.

Untuk menuju ke Pura Gunung Kawi kita terlebih dahulu harus menuruni ratusan anak tangga yang diapit oleh area persawahan nan indah. Begitu sampai di pintu gerbang kita akan disambut dengan sebuah gerbang yang terbuat dari batu. Konon katanya untuk membuat gerbang ini orang mengeruk sebuah batu besar sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini. Sebelum masuk kita terlebih dahulu harus memerciki tubuh kita dengan air suci yang telah disediakan.

Pintu gerbang menuju area Pura Gunung Kawi.

Pintu gerbang menuju area Pura Gunung Kawi.

Kata ”kawi” berarti mengarang kalau kata-kata bijak yang dirangkai menjadi syair yang indah dan penuh makna. Kalau lereng bukit yang dikawi maka kata ”kawi” itu berarti mengukir. Konon yang mengukir lereng bukit Sungai Pakerisan itu menjadi candi adalah Kebo Iwa, tokoh ahli bangunan atau arsitek pada zaman pemerintahan keluarga Raja Udayana. Kebo Iwa membuat ukiran candi sampai menjadi Pura Gunung Kawi dengan menggunakan kukunya. Demikian dinyatakan dalam buku hasil sejarah penelitian pura oleh IHD (sekarang Unhi).

Pura Gunung Kawi dibagi menjadi empat kelompok. Ada kelompok lima candi dipahatkan di tebing timur Sungai Pakerisan berjejer dari utara ke selatan. Kelima candi ini menghadap ke barat. Pahatan candi yang paling utara ada tulisan yang berbunyi ”haji lumah ing jalu”. Kemungkinan candi yang paling utara untuk stana pemujaan roh suci Raja Udayana. Sedangkan yang lain-lainnya adalah istana anak-anak Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu serta permaisurinya. Di pintu masuk candi sebelah selatan dari Candi Udayana ada tulisan ”rwa anakira”. Artinya, dua anak beliau. Candi inilah yang ditujukan untuk stana putra Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu.

gkawi 6

Sementara di tebing barat Sungai Pakerisan terdapat empat kelompok candi yang dipahatkan di tebing Sungai Pakerisan itu berjejer dari utara keselatan menghadap ke timur. Menurut Dr. R. Goris, keempat candi ini adalah sebagai padharman empat permaisuri raja. Di samping itu ada satu pahatan candi lagi terletak di tebing barat daya Sungai Pakerisan.

gkawi5

Di candi itu ada tulisan dengan bunyi ”rakryan”. Kemungkinan candi ini sebagai padharman dari seorang patih kepercayaan raja. Karena itulah diletakkan di sebelah barat daya. Di sebelah selatan candi kelompok lima terdapat wihara berjejer sebagai sarana bertapa brata. Raja Udayana dengan permaisurinya berbeda sistem keagamaannya. Raja Udayana lebih menekankan pada ke-Budha-an, sedangkan Gunapriya Dharma Patni lebih menekankan pada sistem kerohanian Siwa. Hal inilah yang menyebabkan agama Hindu di Bali disebut Agama Siwa Budha.

Keberadaan Pura Candi Gunung Kawi ini yang menempatkan dua sistem keagamaan Hindu yaitu sistem Siwa dan sistem Budha sebagai suatu hal yang sangat baik untuk direnungkan demi kemajuan beragama Hindu ke depan. Di samping itu Raja Udayana sangat menerima baik adanya unsur luar yang positif untuk menguatkan budaya Bali saat itu. Seandainya Raja Udayana saat itu menolak apa yang datang dari luar Bali tentunya umat Hindu di Bali tidak mengenal kesusastraan Hindu seperti sekarang ini.

Misalnya ada berbagai jenis karya sastra Parwa dan Kekawin dalam bahasa Jawa Kuno dengan muatan cerita Ramayana dan Mahabharata. Karya sastra Jawa Kuno ini amat besar jasanya dalam memperkaya kebudayaan Hindu di Bali sehingga Bali memiliki kebudayaan yang sangat tinggi sampai sekarang. Semua unsur itu dipadukan dengan budaya Bali yang telah ada sebelumnya. Demikianlah bijaknya Raja Udayana pada zaman dahulu.

Disebelah tenggara dari komplek candi ini terletak Wihara (tempat tinggal atau asrama para Biksu/pendeta Budha). Peninggalan Candi dan Wihara di Gunung Kawi ini diperkirakan pada abad 11 masehi dan juga wujud toleransi hidup bergama pada waktu itu yang patut menjadi contoh dan tauladan bagi kita di masa ini, belajar dari kearifan masa lalu.

gkawi2

gkawi9

gkawi 1

gkawi 3

Asrinya area komplek Pura Gunung Kawi

Asrinya area komplek Pura Gunung Kawi

Sungai yang masih terjaga kelestariannya di area komplek Pura Gunung Kawi.

Sungai yang masih terjaga kelestariannya di area komplek Pura Gunung Kawi.

Benar-benar sebuah tempat yang kaya akan cerita sejarah dan  budaya. Ditambah keasrian Pura ini yang berada di dekat sungai dan sawah menjadi nilai plus mengapa saya sebut tempat ini eksotis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s