I Love Being a Woman

I’ve often wondered what it would be like to be a guy. But come to think of it, I’m glad I came out a girl. Being a woman is the most amazing experience ever. Not like I have any other to compare it to . But for real, I love being a woman. I love getting dressed up or slacking in that department, because I feel like it. It’s exhilarating to know that one day I’ll have the honor of carrying a little child in my arms and helping him or her along this course called life. I enjoy being complex and not having to stick to just one identity. Most importantly, I love interacting with, hearing about and seeing the quiet strength of women.

batang 1

I know more amazing women that I could have ever imagined meeting and although this is a belated post, you are all amazing individuals. For your inner beauty, your silent fortitude, your sensitivity and your intelligence. For being exactly who you are: a woman.

And i dont really like if someone said that women are  weak„truly lol but we are not weak at all…

Pause

As an ordinary human being, 2 days I am sick and feel how weak as a human ..
I am very aware that I am surrounded by good people, people who have helped me a lot, even those that have a lot of sacrifices …

IMG-20121122-00086

Technology Ruin Lives

Chat-Pillows1

Saya besar dalam perkembangan teknologi yang demikian pesat. Teknologi, dengan berat hati harus saya katakan bahwa hal itu telah membuat manusia malas dan bodoh ketika berpikir itu membuat kita lebih pintar. I fear for the younger generations who will only know social media and texting stuff like it has been around forever. Saya takut bahwa saya akan segera lupa bagaimana menulis dengan benar: menggunakan kalimat penuh dengan makna kata-kata yang sebenarnya, bukan singkatan, akronim dan emotikon. However, it seems that abbreviations and acronyms are fast becoming actual words. The Oxford English Dictionary added OMG, FYI and LOL to the dictionary this year. This makes me sick to my stomach. What’s worse? I find myself doing all of these things I hate and it makes me want to scream sometimes.

Suatu malam saya berkumpul dengan teman-teman sekedar ngobrol santai ngalor ngidul dan  berbicara tentang teknologi, media sosial dan SMS, dll. Masing-masing dari kami ada di Facebook dan Twitter. But the point is we are all a part of the massive machine!. Kita semua pasti melakukan sms. Kita semua menggunakan emotikon. In fact, most people can have a whole conversation with only emoticons, which again makes me sick.  Again I am as guilty as anyone. I love to use Facebook, I love to text and I love twitter and it kills me. I was the last of my friends to get on Facebook and get a texting phone and as much as it pains me to say it, I love it. It’s great. Why you ask? Because you don’t have to talk to anybody. There doesn’t need to be long catch up conversations because you know exactly what they are doing each day because many people post their status updates. If not of Facebook, then on Gchat (Google chat), BBM (blackberry messenger), AIM (AOL Instant Messenger), Twitter, Four Square and I am sure 50 other possibilities.

Hal lain yang bikin gemes adalah orang yang demen banget nulis LOL. However, when one does laugh, even if it is out loud as the acronym says, you don’t say LOLOLOLOL, you say HAHAHAHA so why not write HAHA!? It’s a very simple thing and even correct as the sound goes at least for now before we get de-generated as a race to laughing the sound LOLOLOLOL.

Facebook in general…How many times do you get tagged in a picture or something you don’t want to be tagged in and get annoyed and quickly try to de-tag yourself but if you don’t check often enough then everyone else will see it or some variation of something like that.

Pretty soon, everything in our world is going to be dictated by 140 characters (or whatever the limit is) or less. Anyway, only time will tell but I think we should all make an effort to verbally communicate with others because it is sadly becoming a lost art.

Kawah Ijen, The Largest Lake of Acid on Earth #RockOverIndonesia

Mengunjungi Jawa Timur tak lengkap rasanya jika tak berkunjung ke Kawah Ijen. Ijen merupakan satu komplek gunung berapi yang terdiri dari kawah gunung Ijen dan dataran tingginya. Kawasan ini terletak di tiga kabupaten yaitu Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Gunung Ijen atau lebih di kenal dengan Kawah Ijen, adalah salah satu gunung yang masih aktif sampai sekarang. Memiliki ketinggian 2.443 m dari atas permukaan laut, berdinding kaldera setinggi 300-500 m dan telah 4 kali meletus di tahun 1796, 1817, 1913 dan 1936.

Saya sendiri sudah 3 kali berkunjung ke Kawah Ijen. Dari ketiga kunjungan tersebut selalu ada cerita dan suasana yang berbeda. Juni-Agustus adalah waktu yang terbaik untuk mendaki, menurut saya syh. Sebab, pendakian saya yang ketiga agak sedikit kurang beruntung karena faktor cuaca ya ng berkabut dan mulai masuk musim hujan sehingga tidak bisa mendapatkan pemandangan yang maksimal.

Saya bermalam di Banyuwangi, tepatnya di hotel Ketapang Indah yang lokasinya di pinggir pantai!. Untuk menuju Kawah Ijen dari hotel saya sudah membooking jeep untuk keberangkatan esok. Biasanya saya berangkat dari arah selatan, bisa dilalui dari Banyuwangi pukul 4 pagi menuju Licin yang berjarak 15 Km. Dari Licin menuju Paltuding berjarak 18 Km dan diteruskan menggunakan Jeep atau mobil berat lainnya sekitar 6 Km sebelum ke Paltuding. Ini dikarenakan jalan yang berkelok, berbatu dan menanjak. Sebenarnya untuk waktu keberangkatan bisa bebas kapan saja, namun biasanya setelah jam 9 pagi kabut mulai muncul sehingga kurang bagus untuk mengambil foto.

bromo 74

Welcome drink dari hotel. Saking enaknya sampai lupa mau foto malah keburu abis. Kalau tidak salah namanya secang. enak!

Salah satu sudut favorit di hotel dengan interiornya yang antik.

Salah satu sudut favorit di hotel dengan interiornya yang antik.

The Dancer Statue

The Dancer Statue

Suasana resto di hotel

Suasana resto di hotel

bromo 77

bromo 78

Di depan resepsionis

bromo 79

bromo 81

bromo 85

bromo 87

Berhubung berangkat masih dalam suasana gelap gulita, jadi pemandangan selama perjalaanan menuju Kawah Ijen belum terlalu kelihatan. Namun saat perjalanan pulang, saat mentari sudah bersinar dengan terangnya, barulah kelihatan indahnya pemandangan.

Selama perjalanan menuju Kawah Ijen kita akan disuguhi persawahan, hamparan perkebunan kopi, cengkeh dll. Selain itu kita akan menembus belantara hutan tropis setelah melewati Paltuding. Suka sekali saat naik jeep di dalam kawasan hutan, berasa lagi off road dengan pemandangan ala Jurassic Park! Seruuu abiiis!

Mari mulai mendaki!

Mari mulai mendaki!

Semangat mendaki walau dingin menerjang. Untung nya kondisi jalan tidak terlalu ekstrem.

Semangat mendaki walau dingin menerjang. Untung nya kondisi jalan tidak terlalu ekstrem.

bromo 106

The Scenery

The Scenery

Berselimut kabut menuju puncak

Berselimut kabut menuju puncak

Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam, tapi itu tergantung kecepatan kita berjalan juga. Kawah Ijen sendiri kalau digambarkan bentuknya seperti pelana kuda. Dari puncak kita bisa melihat kawah sulfur yang begitu besar dengan warna toska. Jika ingin turun ke danaunya untuk melihat lebih jelas dibutuhkan paling tidak 30 menit untuk sampai di bawah. Itupun kita harus berjuang melawan bau belerang yang menusuk. Bagi yang tidak mampu jangan dipaksakan karena akibatnya bisa fatal, bisa menyebabkan pingsan juga bagi yang tidak kuat.

Kawah Ijen dilihat dari atas

Kawah Ijen dilihat dari atas

bromo 123

bromo 130

Berpapasan dengan penambang belerang saat turun menuju danau.

Berpapasan dengan penambang belerang saat turun menuju danau.

Saya memutuskan untuk turun menuju danau agar bisa mendapat pemandangan lebih jelas. Lagipula nanggung juga sudah jauh-jauh sampai ke sini tapi gag menikmati semua aspeknya. Cuaca dan kondisi badan juga mendukung. yay! semangat rapatkan masker wajah!

FYI nyh guys, untuk meredam aroma belerang yang kuat, basahi masker kalian dengan air dulu ya. Selain itu sediakan juga tisu karena di sini kita akan banyak mengeluarkan ingus akibat dari asap belerang ini.

Kejar-kejaran dengan asap belerang yang tertiup arah angin.

Kejar-kejaran dengan asap belerang yang tertiup arah angin.

Ayo semangat pak!

Ayo semangat pak!

Mendaki Kawah Ijen itu benar-benar campur aduk rasanya. Antara seneng bisa melihat keindahannya dan sedih melihat perjuangan para penambang belerang. Mereka berjuang dari pagi sampai sore kira-kira pukul 4. Uang yang didapat tak sepadan dengan perjuangan mereka. Harga belerang kurang dari seribu rupiah per kilogram. 😦

Belum lagi melihat pundak mereka yang luka-luka akibat memikul beban berat. Menurut info yang saya terima, harapan hidup para pekerja juga tidak lama, berkisar di angka 40an.

Semakin mendekati dasar.

Semakin mendekati dasar.

Sudah sejauh ini saya turun.

Sudah sejauh ini saya turun.

bromo 157

Hore sampai juga di dasar!

Hore sampai juga di dasar!

bromo 162

bromo 163

Kabutnya tebel pisan syh. :(

Kabutnya tebel pisan syh. 😦

bromo 166

Rapat dari ujung rambut sampai ujung kaki!

Rapat dari ujung rambut sampai ujung kaki!

bromo 169

bromo 170

Bersama teman perjalanan saya kali ini. :)

Bersama teman perjalanan saya kali ini. 🙂

bromo 173

bromo 178

 

I love the color!

I love the color!

bromo 180

 

 

Okai deh hari semakin beranjak siang. saatnya kembali ke hotel !

Alhamdulillah…Terima kasih Ya Allah Engkau berikan kesempatan untuk menikmati indanya ciptaanMu ini. Semoga hamba masih Engkau berikan kesempatan untuk melihat indahnya dunia.

 

Jeep yang menemani selama perjalanan.

Jeep yang menemani selama perjalanan.

 

Eiiits…kelupaan. Sebenarnya pengen banget lihat blue fire kalau ke Kawah Ijen. Secara gitu ya cuma ada 2 di dunia ini. keren kan? Maybe next time kali yah. 🙂