Maafkan Daku, Sayang

Berbahagialah laki-laki yang memperistri seorang wanita yang mengagumi kegagahan kejantanannya, tetapi sewaktu-waktu juga menimangnya sebagaimana seorang ibu menimang anaknya.

 

Selamat malam,

Lama sekali rasanya tak menulis lagi. Hari berganti minggu, begitu banyak hal untuk dituliskan. Rasanya sampai lupa harus menulis yang mana dulu. Fyuuuh…

Minggu-minggu terakhir ini adalah minggu-minggu yang cukup menyita beban mental. Saat-saat seperti inilah hubungan asmara menjadi rawan akan cekcok dan adu argument satu sama lain. Kesalahan terbesar saya selama ini adalah saya orang yang keras kepala. Barangkali tiga patah perkataan lain yang juga penting dalam suatu hubungan asmara selain ‘Aku cinta padamu’ adalah pernyataan penuh kerendahan hati, ‘Maafkan daku, Sayang!’.

Kita sudah mengakui fakta bahwa hidup bersama dalam keserasian yang sempurna lebih merupakan suatu cita-cita ideal daripada kenyataan riil. Meski terhadap orang yang paling kita cintai sekalipun, dapat juga terselip sepercik rasa benci. Mungkin kata-kata kemarahan itu perlu dilampiaskan keluar. Mungkin kata-kata itu justru dapat memberi tempat lebih luas untuk menumpahkan cinta selanjutnya.

Bagi beberapa orang sangat sulit untuk menyatakan penyesalan. Saya adalah tipe orang yang selalu merasa berada di pihak yang benar. Hal yang kurang bijaksana ini harus bisa saya rubah. Walaupun begitu saya cukup berbesar hati untuk selalu meminta maaf jika saya pikir tindakan saya keterlaluan. Seperti tempo hari saat saya terlalu keras dalam mengkritik. “Aku menyesal bahwa kita telah bertengkar. Maafkan segala uapanku, yang seharusnya tidak kuucapkan. Masih ada begitu banyak segi yang kusenangi dalam dirimu. Aku menghargai cintamu lebih dari apapun juga di dunia, sehingga merasa sedih kalau kita saling mencaci”.

Penyesalan adalah salah satu aspek dalam suatu hubungan, di mana soal “Siapa yang mulai?” atau “Mengapa dia berbuat begitu?” tidaklah sepenting soal “Manakah cara terbaik untuk memperbaiki keadaan?”

Penyair Tennyson menuangkannya secara tepat sekali dalam sajaknya: Idylls of The King.

‘Adalah lubang-lubang pada kecapi yang mesmbuat bunyi makin serasi’.

 

Saya ingin belajar menjadi orang yang berhati lembut. Saya merasa bahwa berhati lembut artinya bersedia menghadapi perbedaan antara bagaimana keadaan diri kita dan bagaimana seharusnya keadaan diri kita.

Yaah…saya masih harus banyak belajar.

Advertisements

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny?

Pergilah melihat dunia – Darwis Tere Liye

Pergilah melihat dunia, Anakku..

Dengarkan gunung-gunung bergema memanggilmu, Nak.. Atau lautan bergelora mengundangmu

Maka berangkatlah..
Biarkan alas kakimu yang paling jauh hanya pergi sekitaran rumah akhirnya menjejak ribuan mil
Biarkan debu perjalanan menempel di seluruh pakaian
Jangan cemas banyak hal
Jangan berpikir terlalu panjang hingga ragu datang
Lihatlah dunia terbentang..

Dengarkan nyanyian lembah-lembah hijau, Nak..
Atau padang stepa, padang sabana luas, hingga debu padang pasir..
Atau menyentuh lembutnya pucuk salju dingin menyenangkan..

Jangan habiskan hidup hanya antara bangunan, jalan setapak, kendaraan, itu-itu saja..

Jangan habiskan pagi, siang, sore, malam di jendela yang sama, menghela nafas seolah lega..

Jangan habiskan hari dengan hanya bermimpi melihat dunia

Berangkatlah.. hidupmu lebih besar dibanding sempitnya kerangkeng pemikiran dan pemahaman
Dengarkan gendering ramai kota-kota besar, Nak..
Atau desa-desa permai dengan penduduk selalu tersenyum walaupun mereka berbeda warna kulit

Maka biarkan semua petualangan itu datang
Jangan sedih jika malam-malam terasa lebih panjang
Jangan takut kehabisan bekal
Jangan takut tidak pernah kembali
Biarkan semua mengalir
Kau akan bertemu teman-teman baru

Berangkatlah, Nak..
Kau akan tumbuh layaknya seorang petualang
Tidak mengeluh saat hujan turun
Tidak cemas walau semua serba terlambat
Tidak panik meski semua berantakan
Tidak dikendalikan waktu apalagi oleh manusia lain
Kau akan tumbuh semakin kuat

Kau akan mengerti banyak hal..

Karena sungguh Nak..
Bapakmu tidak bisa menceritakan lebih baik bagaimana rasanya sendirian duduk di sebuah angkutan, sesak oleh penumpang dengan warna kulit berbeda, duduk rapat, sempit saling menempel bahu, suara kotek ayam, tumpukan karung sayur, kardus-kardus, ramai suara mengobrol dengan bahasa antah-berantah, lirikan anak-anak yang ingin tahu..
Dan kau harus mendirikan sholat jama’ di atas mobil itu karena dua waktu sholat hampir habis, kendaraan tak kunjung berhenti.

Kau akan tahu persis sensasinya saat kau sendiri mengalaminya
Dan itu akan memberikan pemahaman baru..

Kau akan mengerti banyak hal..

Pergilah melihat dunia

 

Hati saya bergetar tatkala membaca puisi inidah ini. Pikiran saya menerawang jauh, sudah sejauh manakah saya melangkah?  Sungguh jiwa ini rasanya bergetar tiap kali membaca puisi, buku atau menonton hal-hal yang berhubungan dengan petualangan. Seperti ada kekuatan yang mendorong untuk melangkah dan melangkah lebih jauh lagi.

I was born as Indonesian, a moslem, raised in eastern tradition. I tell you, there’s so much boundaries you can’t easily skip as an eastern woman. So many rules you have to follow. Woman can’t travel alone easily, must get married before 30, not supposed to be too well educated because it will scares the man. I don’t want to follow any of that. No.

I have a big dreams. I want to have a lot of money to take my family to travel and see the world. I want to give my siblings a chance to taste whetever the best this world can offer. And I’m going to get it, my dreams, for whetever path I have to walk on. No matter how hard it is … and yes it is not easy.

Ramadhan tahun ini saya habiskan di rumah bersama keluarga. Sementara ramadhan tahun lalu saya syik berpetualang menjelajah Kalimantan, Jawa dan Bali. Ahh…entah sudah berapa kali saya bercerita soal petualangan saya ini. Hmm…mungkin karena ini sangat berkesan sekali untuk saya. Alhamdulillah … bersyukur sekali saya mendapat kesempatan untuk sedikit menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Dan saya masih saya merasa haus akan petualangan lain, rasanya tak pernah cukup.

Traveling atau entah apa orang menyebutnya, bagi saya ibarat sebuah rute ziarah. Ziarah menemukan jati diri saya, merenung soal kehidupan, mencoba dekat dengan alam dan lingkungan sekitar. Ada kenikmatan yang tak bisa digambarkan, candu bagi setiap petualang.

Sendiri di tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, mencoba berdamai dengan hal-hal yang tak disukai, berkompromi dan beradaptasi menjadi makanan sehari-hari.

Saya benar-benar merasa hidup saat saya melakukan sebuah perjalanan, tak peduli ke manapun itu, sendiri atau dengan kawan.

Masih jelas dalam ingatan, ramadhan tahun lalu tepat di malam takbiran, saat Pulau Jawa ramai dengan gema takbir nan syahdu, sementara saya ada di pulau Bali, di pelosok Ubud. Sendiri dan sakit. Sungguh menyedihkan bukan? Hmm…tapi sungguh, banyak hal yang bisa saya petik dan jadikan pelajaran. Traveling alone makes me realize that family isn’t just the people you’re related by blood with … but also people you have met along your journey.

Apakah saya kapok berpetualang? TIDAK.

Saya masih mempunyai sederetan hal dalam bucket list saya yang ingin saya capai. Entah itu soal hidup atau traveling. Imajinasiku terbang bebas, harapanku melambung tinggi … hati ini senantiasa berharap. Ya Allah … bantu saya untuk mencoretnya satu per satu, beri kekuatan dan bukakanlah jalan. Aamiin.