Tangan Berjuta Bahasa

All the world is my television. Life is a highway and I like to provide commentary on it.

Pernahkah kamu iseng mengamai keadaan sekitarmu kemudian larut dalam pikiranmu sendiri?

Entahlah, saya ini orang yang sukaaa sekali berimajinasi. Saya suka mengamati keadaan sekitar saya dan berusaha menebak cerita di baliknya. Saya suka merangka narasi dalam otak saya akan aktor-aktor kehidupan yang lalu lalang dis ekitar saya.

Jadi apa yang saya amati hari ini?

Saya mengamati bahasa isyarat tangan.

Bahasa tubuh yang sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Tapi bukan bahasa isyarat yang biasa dipakai orang-orang tuna rungu dan tuna wicara. Bahasa isyarat yang saya maksud adalah isyarat yang umum kita gunakan di masyarakat. Saya sendiri gag tahu dalam ilmu komunikasi apa nama istilahnya. Adakah yang tahu?

Hmm… mungkin masih agak bingung ya? Oke mari saya jelaskan sedikit demi sedikit.

Seperti kita ketahui bersama bahwa bahasa pertama yang dikenal manusia adalah bahasa isyarat tangan. Gag ada yang primitif dalam  bahasa yang mengalir dari tangan manusia ini, zaman sekarang pun segala yang ingin kita katakana bisa disampaikan melalui berbagai variasi gerakan lentur jemari dan pergelangan tangan. Gerakan-gerakan ini rumit dan subtil, berupa kehalusan gerak yang telah lama terlupakan.

Sampai di sini adakah yang mulai menangkap maksud saya? Saya lanjutkan ya.

Pada zaman keheningan (begitu saya menyebutnya), manusia malah berkomunikasi lebih banyak, bukan lebih sedikit. Kebutuhan bertahan hidup yang paling dasar menuntut kedua tangan hampir-hampir gag pernah berhenti bergerak, jadi hanya pada saat tidur (kadang-kadang itu pun gag juga) manusia gag mengkomunikasikan sesuatu. Coba saja bandingkan dengan sekarang saat berbagai sarana instant messaging marak digunakan, interaksi secara langsung jadi berkurang. Padahal di sini menariknya loh! Lagi-lagi ini menurut pandangan saya syh.

Gag ada pembatasan kentara antara isyarat untuk menyatakan perasaan dan untuk menyatakan perbuatan. Misalnya pekerjaan membangun rumah atau menyiapkan makanan disampaikan sama ekspresifnya dengan isyarat untuk menyatakan Aku mencintaimu atau aku merasa serius.

Saat  tangan diangkat untuk melindungi wajah karena ketakutan mendengar suara keras, itu sudah merupakan suatu pernyataan, dan ketika jemari digunakan untuk memungut benda yang dijatuhkan orang lain, itu juga suatu pernyataan; bahkan pada waktu kedua tangan tidak bergerak-gerak, itu pun suatu pernyataan.

Wajar saja kalau banyak terjadi kesalahpahaman. Dan karena seringnya kesalahan-kesalahan ini terjadi, dengan berjalannya waktu isyarat untuk meminta maaf berkembang menjadi bentuk yang paling sederhana. Nah! Di sinilah letak romantisnya bahasa yang dikomunikasikan secara langsung. Romantisme yang tidak memberi efek yang sama jika kita hanya berkomunikasi dengan sarana instant messaging.

Sekarang coba kita amati dan renungkan, mungkin hal-hal ini pernah terjadi di sekitarmu atau bahkan pada diri sendiri. Hmm…gini, kalau pada acara kumpul-kumpul bersama atau pesta-pesta besar atau saat berada di sekitar orang-orang yang tidak dekat denganmu, kedua tanganmu kadang-kadang tergantung canggung di ujung-ujung lengan kalau kamu merasa bingung dan tidak tahu mesti berbuat apa dengan kedua tangan itu, ya gag?. Dan akhirnya kamu pun diliputi kesedihan karena kedua tanganmu teringat masa ketika jurang antara badan dan pikiran, otak dan perasaan, yang ada di dalam dan yang ada di luar, tidaklah sebesar sekarang ini. Bukan berarti kita sudah sepenuhnya lupa akan bahasa isyarat ini.

Kebiasaan membuat gerakan-gerakan tangan sambil berbicara merupakan sisa-sisa bahasa pertama itu. Kita yang hidup sekarang ini merupakan penerus dari masa lalu, masa yang kita anggap primitif. Bertepuk tangan, menunjuk, mengacungkan jempll: semuanya adalah peninggalan dari bahasa isyarat zaman purba. Berpegangan tangan misalnya, merupakan cara untuk mengingat-ingat seperti apa rasanya untuk bersama-sama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dan pada malam hari, kalau terlalu gelap untuk melihat, kita merasa perlu saling menggunakan isyarat fisik supaya maksud kita dimengerti.

Gimana?Apakah penjelasan saya bisa dimengerti?

Gag usah terlalu serius ya, ini hanya pengamatan bodoh saya disertai penjelasan sok ilmiah yang saya racik. Heuheuheu

Jadi apa kesimpulannya?

Kesimpulannya adalah kita ini masih merupakan mahluk purba seperti nenek moyang kita dulu. Bedanya adalah kalo mahluk purba zaman dulu hidup di hutan belantara sementara kita sekarang hidup dalam invisible ‘zoo’ !

Auuuoooooooooooooo!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s