The Art of Being Alone

“Tiga kebutuhan dasar kita adalah makanan, air, dan tempat berteduh. Namun kita mengabaikan tempat berteduh kita yang paling berharga, yaitu pikiran dan tubuh kita.”

Ah … akhirnya bisa juga kembali menulis dengan damai. Life has been hectic the past few weeks. 2 bulan ini rasanya hidup saya dipenuhi dengan berbagai agenda bersama teman dan job freelance. Tak bisa dipungkiri, 2 bulan ini adalah masa-masa yang sedikit hedonis.

Hampir setiap minggu selalu ada agenda hangout, banyak kegiatan nongkrong, jalan ke sana jalan ke sini, dan bla bla bla. Mungkin kegiatan hedonis yang saya lakukan masih terhitung wajar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi saya. Sebenarnya saya bukanlah orang yang selalu mengagendakan hal khusus tiap weekend, namun berhubung 2 bulan belakangan ini sedang banyak momen jadi terasa jor-joran aja syh.

Jujur, walaupun saya menikmati setiap momen yang saya habiskan bersama teman-teman saya, tak bisa dipungkiri kadang ada sedikit rasa bersalah. Yah .. mungkin ini yang namanya guilty pleasure. Terkadang perasaan saya kalau sudah begini terasa mengambang. Sedih tidak, senang juga tidak. Lempeng aja gitu rasanya, gag tahu juga kenapa bisa begini.

Sampai akhirnya saya menyadari, mungkin saya butuh waktu untuk sendiri. Menyepi dari segala rutinitas yang saya lakukan, menyepi dari hingar bingar keramaian, mengobrol dengan diri sendiri untuk sekedar menata kompas jiwa saya agar kembali menuju arah yang benar.

Bukankah ini adalah hal yang suka saya lakukan?

Yes, I’m a loner but not a lonely person.

537189_4227008879573_667627165_n

Continue reading

Solo Off Road with MTB

LATE POST!

Hello everyone! I’m so happy to be getting back! Fyuuuh

I’m so excited deh nulis postingan ini karena mengingatkan kembali keseruan di weekend kemarin yang saya lalui dengan sepedaan. Bukan sembarang sepeda tapi mtb alias mountain bicycle di rute yang bisa dibilang cukup menantang bagi amatiran seperti saya.

This is my very first experience!

Bisa dibilang ini adalah acara dadakan sebenarnya. Jumat malam baru fix, Sabtu paginya tanggal 14 Juni langsung berangkat dari Semarang ke Solo bersama2 orang yaitu si Iting a.k.a my boyfriend dan si Bagus. Tumben ya cuma seuprit doang yang ikut, biasanya pasti rame-rame. Ya iyalah secara mobilnya udah penuh duluan buat nampung sepeda.

Trus kenapa memilih Solo? Hehe .. alasannya simpel kok, karena kebetulan di sana ada si Dhunu, anak inline yang hobi sepedaan juga. 😀

Perjalanan Semarang-Solo terhitung lancar walaupun saat itu weekend. Begitu sampai di Solo kami langsung menuju Jackstar untuk ketemuan dengan Dhunu sekalian isi perut berhubung matahari sudah semakin meninggi. Selesai makan kami menuju ke bengkel sepeda milik teman Dhunu karena si Bagus berencana beli crank baru. Yah … walaupun ujung-ujungnya gag jadi beli karena harganya beda tipis sama yang baru.

Untungnya si empunya bengkel lumayan jenaka, jadi sedikit terhibur deh selama di situ. Lumayan lah sedikit dapet ilmu juga tentang seluk beluk sepeda. Saya baru tahu lho kalau sepeda yang bagus itu ternyata posisi remnya kebalikan dari motor. Selain itu rupanya sepeda juga ada berbagai macam jenisnya mulai dari down hill, dirt jump, off road, cross country, road race, hard tail, bmx, dst. Kalau yang saya pakai nanti itu mtb,teman saya bilang syh all mountain gitu. Tapi saya belum terlalu ngerti juga syh. Hihihi

Semakin banyak ngobrol tentang dunia sepeda jadi semakin paham bahwa ini adalah hobi yang mahal. Lebih mahal dari motor atau mobil malahan. Seorang rekan dari teman yang sudah menjajal berbagai macam hobi pun membenarkannya. Mulai dari harga sepeda yang bisa buat beli rumah, trus misal beli spare part yang custom dengan harga puluhan juta, orang-orang dengan obsesi yang bagi saya agak tidak masuk akal.

Di luar sana ternyata ada orang-orang yang rela mengeluarkan uang ratusan juta untuk memenuhi hobi sepedanya. Cuma bisa geleng-geleng kepala pas diceritain kalau ada seorang rekan yang punya beberapa sepeda dengan harga masing-masingnya setara sebuah rumah, tapi yang punya sepeda malah masih ngekos alias belum punya rumah sendiri. Ada pula yang ngeluarin duit 80 jutaan Cuma buat beli tempat duduk/sadel doang. Dan masih banyak lagi cerita-cerita fantastis kaum borjuis ini yang cuma bikin saya bengong. Memang benar kalau ada pepatah bilang bahwa tak ada hobi yang murah di dunia ini.

Aduh kok malah jadi ngomongin orang gini ya … hehe … maaf maaf, back to the topic ya!

Singkat cerita setelah dari bengkel kami pun menuju rumah Dhunu untuk beristirahat sejenak sebelum bersepeda. Tepat pukul 15.00 WIB kami berempat bersiap-siap menuju start point untuk sepedaan.
Start pointnya di sebuah bengkel sepeda bernama Brewok Mountain Bicycle di daerah Mesungan, Gondangrejo, Karanganyar (utara perumnas Mojosongo). Sambil menunggu leader yang akan memandu kami datang, kami gunakan waktu untuk berganti kostum dan merakit sepeda.

10277427_10203288331185858_5198156452244437855_n Continue reading

Unplanned Birthday Dinner at Pisa Cafe Semarang

Dear my lovely readers,

Sorry sorry sorry lama sekaliiii tidak update blog. Apa daya segudang kesibukan plus skripsi membuat saya benar-benar mampet untuk berceloteh di sini.

Sebelum bulan Juni berakhir sia-sia tanpa satu pun postingan mendingan sekarang saya menulis tentang perayaan ulang tahun kecil-kecilan sekalian review tempat makan deh.

Jadi ceritanya tanggal 4 Juni kemarin saya berulang tahun yang ke … *sensor.

Hayoo yang mau ngasih kado belum telat kok. Mumpung masih bulan Juni. hihihi

Sebenarnya bagi saya pribadi, ulang tahun bukanlah hal yang spesial banget. Dinner bareng temen-temen kali ini pun sebenarnya tak direncanakan pula syh.

Unplanned birthday dinner + review dikit deh tentang Pisa Cafe .. hehe

 

pisa1 Continue reading