Solo Off Road with MTB

LATE POST!

Hello everyone! I’m so happy to be getting back! Fyuuuh

I’m so excited deh nulis postingan ini karena mengingatkan kembali keseruan di weekend kemarin yang saya lalui dengan sepedaan. Bukan sembarang sepeda tapi mtb alias mountain bicycle di rute yang bisa dibilang cukup menantang bagi amatiran seperti saya.

This is my very first experience!

Bisa dibilang ini adalah acara dadakan sebenarnya. Jumat malam baru fix, Sabtu paginya tanggal 14 Juni langsung berangkat dari Semarang ke Solo bersama2 orang yaitu si Iting a.k.a my boyfriend dan si Bagus. Tumben ya cuma seuprit doang yang ikut, biasanya pasti rame-rame. Ya iyalah secara mobilnya udah penuh duluan buat nampung sepeda.

Trus kenapa memilih Solo? Hehe .. alasannya simpel kok, karena kebetulan di sana ada si Dhunu, anak inline yang hobi sepedaan juga. 😀

Perjalanan Semarang-Solo terhitung lancar walaupun saat itu weekend. Begitu sampai di Solo kami langsung menuju Jackstar untuk ketemuan dengan Dhunu sekalian isi perut berhubung matahari sudah semakin meninggi. Selesai makan kami menuju ke bengkel sepeda milik teman Dhunu karena si Bagus berencana beli crank baru. Yah … walaupun ujung-ujungnya gag jadi beli karena harganya beda tipis sama yang baru.

Untungnya si empunya bengkel lumayan jenaka, jadi sedikit terhibur deh selama di situ. Lumayan lah sedikit dapet ilmu juga tentang seluk beluk sepeda. Saya baru tahu lho kalau sepeda yang bagus itu ternyata posisi remnya kebalikan dari motor. Selain itu rupanya sepeda juga ada berbagai macam jenisnya mulai dari down hill, dirt jump, off road, cross country, road race, hard tail, bmx, dst. Kalau yang saya pakai nanti itu mtb,teman saya bilang syh all mountain gitu. Tapi saya belum terlalu ngerti juga syh. Hihihi

Semakin banyak ngobrol tentang dunia sepeda jadi semakin paham bahwa ini adalah hobi yang mahal. Lebih mahal dari motor atau mobil malahan. Seorang rekan dari teman yang sudah menjajal berbagai macam hobi pun membenarkannya. Mulai dari harga sepeda yang bisa buat beli rumah, trus misal beli spare part yang custom dengan harga puluhan juta, orang-orang dengan obsesi yang bagi saya agak tidak masuk akal.

Di luar sana ternyata ada orang-orang yang rela mengeluarkan uang ratusan juta untuk memenuhi hobi sepedanya. Cuma bisa geleng-geleng kepala pas diceritain kalau ada seorang rekan yang punya beberapa sepeda dengan harga masing-masingnya setara sebuah rumah, tapi yang punya sepeda malah masih ngekos alias belum punya rumah sendiri. Ada pula yang ngeluarin duit 80 jutaan Cuma buat beli tempat duduk/sadel doang. Dan masih banyak lagi cerita-cerita fantastis kaum borjuis ini yang cuma bikin saya bengong. Memang benar kalau ada pepatah bilang bahwa tak ada hobi yang murah di dunia ini.

Aduh kok malah jadi ngomongin orang gini ya … hehe … maaf maaf, back to the topic ya!

Singkat cerita setelah dari bengkel kami pun menuju rumah Dhunu untuk beristirahat sejenak sebelum bersepeda. Tepat pukul 15.00 WIB kami berempat bersiap-siap menuju start point untuk sepedaan.
Start pointnya di sebuah bengkel sepeda bernama Brewok Mountain Bicycle di daerah Mesungan, Gondangrejo, Karanganyar (utara perumnas Mojosongo). Sambil menunggu leader yang akan memandu kami datang, kami gunakan waktu untuk berganti kostum dan merakit sepeda.

10277427_10203288331185858_5198156452244437855_n

10368246_10203288331665870_5360753190058632050_n

Sekitar pukul 16.00 WIB kami mulai berangkat setelah briefing sebentar.

10329813_10203288313825424_8595948199773554901_o

10460654_10203288314425439_8086011849075951124_o

10384815_10203288324985703_8900847198466863272_n

Yay! Mari menggelinding! Hahaha

Medan di awal perjalanan masih relatif mudah. Menyusuri jalan di perkampungan yang relatif masih tradisional bentuk-bentuk rumahnya, sesekali melewati pematng sawah,alas, dan hutan bambu. Tanjakan dan turunannya pun belum terlalu membuat saya kewalahan.

Lama-lama medannya menjadi semakin ekstrim nyh. Turunan curam yang pertama saya tidaj berani menaiki sepeda! Akhirnya saya tuntun dulu setengah jalan sampai akhirnya saya naiki dulu. Nyali saya ciut membayangkan bagaimana seandainya pas saya turun eh saya tersandung kena batu-batu gede dan kena kepala saya. Ngeri ih bayanginnya … apalagi saya tidak memakai helm. Tenang-tenang … turunan berikutnya saya pasti bisa!

Setelah turunan, medan pun berganti tanjakan dengan medan tanah liat kering yang sedikit licin jika kurang berhati-hati. Merepotkan jika ada angin karena debunya akan berterbangan. Si Bagus yang jadi korbannya di sini. Jatuhnya syh sedikit konyol, bukan karena terpeleset tapi karena sarung tangannya terjepit rem jadi pas ditarik malah jadi kebanting.lol … sedikit menghibur juga sebenarnya. Hihi *piss

Sedikit tips nyh kalau pas tanjakan ganti gear giginya jangan terlalu ringan banget karena justru akan membuat kita kesulitan untuk mengayuh. Tenaga kita akan sia-sia karena kurang tekanan juga. Perberat sedikit giginya dan kayuh secara perlahan. Percaya deh walaupun dikayuh pelan-pelan pun sepeda akan tetap naik kok.

Alam terbuka berganti dengan alam yang sedikit tertutup di medan selanjutnya. Iya, kami sudah mulai memasuki hutan dan semak-semak yang membuat kami harus lebih hati-hati. Di medan inilah saya sudah bisa mulai menikmati dan menguasai sepeda saya. Turunan dan tanjakan sudah mulai berani saya lalui di atas sepeda saya, walaupun masih tetap saya tuntun juga ketika saya menemui halangan yang cukup berbahaya menurut saya.

10305502_10203288319545567_7032510168146875229_n

10382105_10203288315545467_772406362340975356_o

10432150_10203288323345662_7851636549220948771_n

10443364_10203288320185583_3549614615984724658_n

10458340_10203288319905576_5397871072353272747_n

10479647_10203288315905476_8010939255504054312_o

Saya selalu mengingat-ingat dalam pikiran saya untuk mencondongkan badan ke belakang ketika melalui turunan, tangan pun selalu siaga tatkala sewaktu-waktu perlu untuk mengganti gear gigi. Tak jarang di medan ini kami harus menunduk karena jalan terhalangi oleh batang pohon yang tumbang ataupun terpeleset oleh semak belukar. Mata pun harus selalu awas karena jalanan setapak yang relatif kecil dan tak rata. Ah seru sekali!

1888958_10203288316905501_7128461324803578004_o

10342399_10203288319225559_6080523739638081421_n

Oh ya kami pun menyempatkan untuk berfoto-foto sejenak ketika istirahat. Tetep ya dokumentasi itu nomor satu. Daripada ntar dibilang hoax kalau gag ada buktinya. hahaha

10421180_10203288318465540_7024885629419852781_n

10444010_10203288318705546_7047959572139264723_n

10453364_10203288318065530_2188739669973462681_n

2 turunan terakhir adalah medan yang paling saya suka. Benar-benar bikin ketagihan, saya sampai mencobanya 2 kali lho! Sayang hasil jepretan fotonya kurang maksimal berhubung pakai kamera handphone. Terlalu malas buat nenteng DSLR, ribet!

 

10354731_10203288317545517_5354971163444313755_n

Voila!

Itu tadi sedikit keseruan yang bisa saya bagi. Pengennya syh tar bisa nyoba lagi dengan medan yang berbeda tentunya.

Saya ketagihan!!!

Gimana pengen nyoba juga gag? 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s