#BunTingStory: Why We Didn’t Go On Our Honeymoon After Our Wedding

16-10-03-14-11-17-305_deco-01

In our first week, we didn’t fly off to the honeymoon. Hangus deh hotel dan tetek bengeknya yang udah dibooking online jauh-jauh hari. Rupanya masih ada satu sesi tradisi jawa yang kudu kami lalui setelah menikah, belum boleh pergi kalo belum ‘sepasar’. Sepasar itu itu apa saya juga gag begitu paham. Agak konyol syh memang menurut saya, tapi yasudahlah saya berusaha menghormati tradisi. Salah saya sendiri juga kenapa gag tanya sana sini sebelum merencanakan liburan. So…we spent time unpacking, opening wedding gifts, and merging our lives together. Yah…tung-itung istirahat karena badan masih capek habis nikahan. We ate leftovers from our reception on the floor of our living room, while sorting through gifts. We we went back to work on Wednesday. Ppfftttt….

Gagal honeymoon ini sebenarnya bikin sedikit kecewa, tapi setelah saya pikir-pikir ada sisi positifnya juga kok diskip dulu honeymoonnya. On a financial note, I am so glad that we didn’t embark on a trip right away. As any current or past bride knows, getting married is expensive! Additionally, a lot of the cost creeps up right at the end of the process, and even on the day of. It was a relief.

Untuk mengobati sedikit kekecewaan, akhirnya kami menghabiskan weekend untuk jalan-jalan di Magelang. Jaraknya relatif dekat dengan Semarang, udaranya pun relatif sejuk, tempat wisatanya juga cukup banyak pilihan. Pilihan kami jatuh ke Camera House Borobudur dan Punthuk Setumbu. Tak banyak tempat yang kami kunjungi memang, mengingat waktu keberangkatan kami selepas dhuhur. Tak apa, ini saja sudah cukup menyenangkan. Hehe…benar-benar acara spontan. Giliran yang mendadak gini malah jadi.

Sudut pandang kami soal jalan-jalan sekarang sedikit bergeser. Main itu gag melulu harus yang mahal dan jauh, yang penting rutin dan benar-benar bisa menghilangkan penat dari rutinitas sehari-hari. Ada kalanya juga kok kita gag pengen ngapa-ngapain. Cuma bermalas-malasan. Ada kalanya juga pengen nyari hiburan yang gag terlalu butuh usaha lebih. Ada kalanya juga pengen yang jauuuuuuh dan unik. Saya rasa itu hal yang manusiawi.

Nah….kembali ke topik. Camera House Borobudur ini gampang banget kok lokasinya. Tinggal menuju ke arah Candi Borobudur trus belok kiri arah ke Manohara Hotel. Nah dari situ tinggal mengikuti petunjuk jalan yang terpampang.

14305177_10207205562123470_1182721056491057345_o

14311212_10207204850225673_1650698303566504481_o

14258254_10207218808094611_7806856548487201592_o

Galeri seni ini bukan cuma menawarkan karya seni saja, tapi ada wahana untuk berfoto-foto untuk yang doyan selfie. Waktu itu saya cuma beli tiket untuk ke Camera House dan 2 area foto yang saya lupa namanya. Hehe..hasilnya lihat saja sendiri seperti di bawah ini. Kami datang di waktu yang tepat untuk melihat sunset. Sungguh indah pemandangan yang dilihat dari puncak Camera House, hamparan bukit , persawahan, dan pedesaan mendominasi pemandangan sore itu.

14324577_10207218822334967_8219741463470610887_o

img_0523

img_0509

14195292_10207218904137012_5920715486382689835_o

14290064_10207218107677101_4040274598323617703_o

Puas berkeliling di Camera House, kami melanjutkan perjalanan menuju Puntuk Setumbu yang letaknya tidak jauh dari situ. Tampaknya kami akan terlambat melihat sunset dari Punthuk Setumbu karena sudah terlalu sore. Sebenarnya saya dulu sudah pernah ke Punthuk Setumbu tapi untuk melihat sunrise.

Hamparan sawah dan pemandangan khas pedesaan akan menjadi suguhan utama tatkala kita menuju Punthuk Setumbu. Pamor tempat wisata ini semakin dikenal sejak sering diunggah ke media sosial oleh netizen. Saya sendiri sedikit takjub dengan kemajuan Punthuk Setumbu sekarang. Fasilitas jalan sudah dicor sedemikian rupa, ada  loket masuk dan fasilitas umum juga. Jalan yang dulu hanya undakan tanah, kini sudah dipaving. Ahh….jadi serasa kehilangan kesan alaminya sedikiiiiiit. Menurut penuturan petugas yang saya wawancarai, fasilitas di sini memang terus dibenahi karena mendapat kritikan dari UNESCO. Oh…begitu rupanya.

img_0713

Benar saja, setelah berjalan kaki menuju puncak selama beberapa menit, langit sudah mulai gelap sesampainya kami di puncak. Tak apa, saya tetap  menikmati momen ini bersama suami walau nyamuk-nyamuk mulai merajalela. Hehe…Ah Iting, over time I do feel more bonded with him. He has become my family, which is different than just my boyfriend or my fiance. I think I was already very committed to him before we said our vows, so for me it didn’t change much at first. I was already treating us as married, so there just wasn’t much of an adjustment to make. Not to say he wasn’t committed, but I think he did reserve a level for after the marriage. I have a ton more respect and admiration for him, I love him in a completely different way.

img_0710

Looking back on our decision, I wouldn’t have done it any differently. Rather than capitalize on a wedding’s momentum—when it’s easy to feel loving, hopeful, and committed—set yourself up to celebrate your marriage for the long haul. While everyone is different, and everyone’s schedule is different, if you’re debating between the old “get in the car and jet off to your honeymoon” plan or waiting a little while, I’d strongly suggest waiting. The best part (other than the finances and logistics) is that you have an excuse to celebrate your marriage all over again. And that’s certainly worth waiting for.

14352357_10207226166958578_3406311893772833721_o

What are your thoughts? Would you skip your honeymoon or plan it later?

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s