#BunTingStory: Cepu Travelogue – Meaningful Holiday and Fun Family Activities

 

img_20161212_111727-01

Everyone needs a break from the usual routine and that includes our parents too. The chance to revisit special places with treasured memories, or explore somewhere new can really lift our mood and give us a feeling of well being. Whether it’s a fun day out to a local attraction, a long weekend, or a trip to somewhere sunny and warm, there are lots of holiday options to choose from, depending on our parent’s health, general mobility, and budget.

The great thing about the holiday season — is having the chance to spend valuable time with our loved ones, show our appreciation for one another and overall, give thanks. Holiday traditions are important in every family, regardless of religion or how you choose to observe the holiday season. They provide meaningful and cherished lifelong memories and more so, an opportunity to spend quality time together.

Alhamdulillah ya ada momen libur tanggal merah, jadi ada kesempatan buat mudik ikut suami ke Cepu. Horeee! Akhirnya merasakan mudik juga. Sebelum berlanjut lebih jauh, mungkin di sini ada yang tidak tahu Cepu itu di mana? Karena dulu saya waktu awal pacaran juga gag tahu di mana itu Cepu. Hahaha…parah banget geografinya!

Jadi Cepu itu sebuah kecamatan yang terletak di kabupaten Blora. Letaknya di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Walaupun sebuah kecamatan, tapi relatif maju karena ada pertambangan minyak Pertamina. Ini kedua kalinya saya ke Cepu, dulu ke sini saat sebelum nikah. Hehehe

Berbekal informasi dari google, saya sudah menyiapkan diri untuk agenda selama di Cepu 3 hari dua malam. Berangkat dari Semarang Sabtu pukul setengah 8 malam dan sampai Cepu sekitar pukul setengah 12 malam. Hari Minggu saya habiskan untuk acara keluarga, nurutin adik kembarnya si Iting yang ngidam ke pantai. So we decided to visit our neighbouring regency, Rembang. Pantai Karang Jahe jadi tujuan kami. Perjalanan Cepu – Rembang relatif lancar. Pantai Karang jahe sendiri gampang ditemukan karena ada papan petunjuknya di pinggir jalan besar. Sebagai salah satu pantai paling favorit di Kabupaten Rembang, tak ayal mobil dan motor tampak padat merayap melewati gang kecil menuju akses ke pantai. It was absolutely heaving with people.  Many had visited from the surrounding area.  We didn’t know what to expect, but literally there were lots of stalls where you could eat.  There were also stalls where you could take away sausages and other items to eat.

Menurut pengamatan pribadi saya, salah satu ciri khas yang menjadi kelebihan Pantai Karang Jahe ini adalah deretan pohon cemara yang letaknya dekat ke bibir pantai. Jadi walaupun di pantai panas, tapi terasa adem. Dan memang banyak juga pengunjung yang duduk santai di bawah pohon cemara sambil menikmati semilir angin. Payung besar warna warni tampak menghiasi bibir pantai, jadi tempat strategis untuk menggelar tikar, aneka rupa mainan anak-anak untuk membuat acara renang di pantai jadi lebih seru ramai-ramai disewakan, kapal mesin yang berlabuh di dermaga menanti penumpang untuk berlayar tampak dari kejauhan.

wp_20161212_09_46_44_pro-01

Kami pun memilih salah satu tenda payung yang sepi, kemudian menggelar tikar untuk bersantai dan membuka bekal cemilan yang sudah kami bawa, pisang rebus dan singkong rebus! Setelah bosan cuma duduk dan ngobrol akhirnya saya, Iting dan adek kembar berinisiatif untuk jalan-jalan di sekitar pantai dan iseng nyobain ATV. Si bapak sama ibuk jaga kandang biar pacaran berdua. Hehehe

img_20161211_132036-01

20161211_132246-01

img_20161211_132620-01

Tak sampai sore kami ada di pantai, karena hujan deras langsung mengguyur pantai kala itu. Kami pun langsung segera menuju mobil untuk pulang ke rumah, setelah sebelumnya makan dulu dalam perjalanan. Hujan rintik mengiringi perjalanan kami sampai di rumah, bahkan beberapa jam setelahnya. Padahal saya dan Iting ada agenda untuk ketemu kawan lama Iting sambil ngopi.

Pukul 9 malam saya dan Iting baru keluar rumah setelah istirahat sebentar dan makan. Kami pun segera menuju rumah kawan Iting baru menuju warung kopi bersama. Tampaknya salah satu kebiasaan masyarakat di sini itu ngopi di warung kopi. Seharusnya warung kopi yang kami datangi itu warung kopi langganan, bener-benar tradisional gitu. Cuma karena sudah larut akhirnya ya ngopi di kafe biasa saja. Tak apa yang penting suasana tetap akrab dan hangat. Hari ini ditutup dengan manis, semanis coklat panas di genggaman saya. Syukur Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang tercinta.

LANJUT HARI KETIGA!

Although I was visiting Cepu mainly to visit family, my husband, organised one day trip  and acted as excellent tour guide. Petualangan saya di hari ketiga kali ini hanya berdua bersama Iting. Agenda kali ini cuma muter-muter sekitar Cepu aja syh sekalian napak tilas perjalanan hidup Iting. Kalo kata Iting di Cepu itu gag ada tempat yang jauh, dan emang bener syh saya rasakan. Ke mana-mana jaraknya berasa dekat. Perjalanan di mulai dari tempat Iting menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di asrama polisi. Asrama polisi yang dulu ditempati Iting sudah jauh berbeda dengan yang sekarang. Sekarang jadi kurang terawat gitu deh. Dari asrama polisi, kami berlanjut ke Kilometer 0 Cepu Pertamina. Konon di sinilah 0 kilometernya Cepu. Tempatnya sendiri terletak di komplek Pertamina. Di sini kami sekedar foto-foto sebentar. Memang bukan tempat wisata syh, cuma saya lihat cukup ramai dikunjungi beberapa warga lokal. Mungkin karena pas hari libur juga ya.

wp_20161212_09_46_44_pro-01_3

img_20161212_093950-01

Tak jauh dari Kilometer 0, kami beranjak naik ke hutan kecil yang ditanami pohon minyak kayu putih. Beberapa remaja tampak hilir mudik silih berganti untuk berfoto di sini. Kambing dan kerbau tampak asik merumput di sekitar kami. Tanah yang sedikit becek karena sisa hujan semalam tak menyurutkan keramaian pagi ini. When I was stressed, the first thing that helped me was taking a walk, like a blend of the nature, and praying. I love being out in nature, and enjoy the soft breeze, chirping of birds, moving clouds and much more. For some a book, a nice talk, a perfect cup of tea, an outing , a smile of our kids , a gesture of being appreciated is enough. For some, it is not enough. Puas berfoto-foto dan mengamati pohon kayu putih, kami berlanjut mengitari komplek Pertamina tempat Iting dulu kala kecil bermain-main.

wp_20161212_09_46_44_pro-01_4

wp_20161212_09_46_44_pro-01_2

Spot kedua kunjungan kami adalah Loco Tour Cepu. Sebenarnya pengennya yang Loco Tour di Blora yang bisa sampai nembus hutan jati. Tapi berhubung terlalu jauh, jadi yang deket aja deh. Wisata ini sedang direvitalisasi untuk menggaet lebih banyak wisatawan. Saya perhatikan beberapa fasilitas umum untuk pengunjung sudah dibangun. Tiketnya pun relatif murah menurut saya. Cukup 22 ribu per orang sudah paket lengkap untuk muter-muter melihat lokomotif yang ada di situ dan naik lokomotif juga. Saran saya, gunakan baju lengan panjang/jaket dan celana panjang karena nyamuknya banyak saat kita naik lokomotif nanti.

img_20161211_221257-01

img_20161212_101640

img_20161212_101640_2

Lokomotif di sini adalah peninggalan Jerman yang dibangun tahun 1928. Nama lokomotifnya tapi Indonesia banget loh, yaitu BAHAGIA dan TUDJU BELAS. Semuanya masih  terawat dengan baik. Hanya saja lokomotif yang digunakan untuk kepentingan wisata itu yang berbahan bensin agar lebih murah. Jika mengoperasikan lokomotif yang sebenarnya biayanya sangat mahal karena berbahan bakar kayu jati, tarif wisatanya bisa sampai 14 juta. Hehehe…kalo ini syh pasarnya untuk wisatawan mancanegara. Kalo kami cukup naik yang murah aja udah cukup menghibur. Hehehe

img_20161212_104906-01

screenshot_2016-12-12-11-02-46-02-01

Sambil menunggu antrian, kami habiskan waktu untuk berfoto-foto dan mengobrol dengan penjaga di situ. Saya pun iseng-iseng main dengan anak-anak dari desa sekitar. Main gelantungan di pohon beringin. LUPA UMUR BANGEEET! Begitu giliran kami datang, kami pun langsung menaiki lokomotif wisata yang kala itu diisi 13 orang termasuk masinis. TUUUUUUTTTT…..TUUUUUUTTTTT……TTTUUUUUUUTTTTT….Kereta berangkat!

Aaaahhh….senangnya, saya yang seumur hidup belum pernah naik kereta ini bisa sedikit merasakan sensasi naik kereta. Terima kasih suamiku yang katanya berasa kayak nemenin anak TK study tour. Hahaha

Eeeiiitss…tur hari itu belum selesai. Kami masih lanjut menuju berkeliling sekitar Cepu dan kemudian ngopi lagi, kali ini di pasar tradisional. Siang hari yang terik itu ditemani secangkir kopi susu panas sambil ngobrol dengan kawan lama. Cara yang sempurna untuk menutup tur singkat hari itu.Tak terlalu lama memang kami di sana, karena pukul 2 siang rencananya kami akan kembali ke Semarang.

Yup! Itu dia liburan sederhana #BunTingStory edisi pertama kali mudik bersama. Sederhana tapi terasa ‘kaya’ untuk saya. Oh I’ve had a week.  A week deep in thought, a week plowing through the fields of my mind. Do you ever have those times where you find your eyes have clouded and you start thinking about times, moments, people, events that shaped you so deeply but are now so embedded in your history? It has been that kind of week. Dreaming of places and individuals and still frame photos of younger years.

Thinking of past lives and past homes and past adventures that all took certain turns to lead me where I am today. If X hadn’t have happened, then Y would have, and perhaps the next step would not have been Z.

Things look different now, and that’s okay. Many people we’ve known have departed, are deceased, or we’ve deliberately created space between in order to ensure our own peace as a family. We are that collection of our memories and while nothing can change the roads that led us here, the lessons still come at the most interesting of times.

wp_20161212_09_48_53_pro

I have known great love in my life, love of many kinds, from big and small friendships, to work friendships that saved my sanity, to romantic relationships who made me see the many sides of the world and helped me to understand where I thrive (and where I merely survive), to those brought about by DNA who have taught me that true family is not related to blood, to those who walk on four legs and are the most unconditionally true of all sentient beings, to the great love of ocean and trees and wide open spaces and faraway cities and food that makes you close your eyes when you taste it and art that makes you sigh with recognition and books and films and other stories which awaken the soul and moving your body in such a way that it opens you up from the inside out. I have known great love in my life, and will continue to.

So when the lens gets microscopic, and I forget about this beautiful, amazing, spectacular adventure of a life I’ve had? It’s time to pull back. It’s time to inhale. It’s time to run that tape playing behind your eyes and remember all the beauty you’ve experienced.

Even in this uncertain political climate we face.
Even in all the imperfections of our daily world.

We are alive, we are whole (even when we think we are broken), we are beautiful.

And because of that? We can give back to the world. Maybe not in the ways we had originally planned, but in other ways that represent who we are now, in this moment, and who we want to be. Because while we may not have everything we want, we can still be thankful, and we can still live for all that we hope for, both for ourselves and the world around us.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s