BOOKS BOSS: Surga Tersembunyi Pecinta Buku Impor Bekas di Semarang

Udah lama banget pengen nulis ini dari jaman kuliah. Tapi akhirnya cuma nangkring di draft aja. Baiklah kali ini ijinkan saya menuliskan salah satu tempat favorit saya di Semarang untuk mencari buku impor bekas. Ini dia BOOKS BOSS! Saya bela-belain re-visit lho biar fotonya update sesuai kondisi terkini.

Untuk yang pertama kali ke sini mungkin bakalan bingung kok gag ada keterangan harganya ya bukunya? Eeeiittss…jangan salah, harga buku di sini memakai indeks warna gitu deh. Coba lihat foto di bawah, harganya murah-murah kan?! Gag lewat dari 150 ribu lho yang paling mahal! Selain itu tempatnya agak-agak picturesque gitu deh. Nggemesin pokoknya!

Gimana? Sampai sini udah makin penasaran belum?

Kalo kamu pecinta buku-buku impor bekas berbahasa Inggris, yuk lanjut baca tulisan ini! Hehehe… maaf ya tulisannya campur-campur bahasanya. Soalnya ini draft udah lama dan males ngedit dari awal. >.< Continue reading

Advertisements

Book Review: Paper Towns by John Green

DSC_2174-01

Reading is my way of going out of the reality of my world. I mean, through reading I am entering another world that’s created by the author, who seems to be perfect and in that kind of world I’ve been able to meet different characters who has their personal issues with themselves and their own world as well. Fictional worlds are better than non-fictional right now. Okay, here in Paper Towns created by John Green.

I allowed myself entering this world without any idea what really is inside of. Who am I gonna meet, and how to deal with them. My mind keep on asking is it the same as Looking for Alaska? if not, what’s the difference?

Continue reading

Resensi buku “THE GIANT PACK OF LIES”

Bonsoir..!

Selamat malam, gue  ingin berbagi informasi nih dari buku THE GIANT PACK OF LIES. Menyorot kedigdayaan Industri rokok di Indonesia.

Sesungguhnya regulasi pengendalian tembakau tidak mungkin membunuh industri rokok dan pertanian tembakau.Ada puluhan juta penikmat rokok yang siap melanggenggkan pasar rokok. Tak serta merta berhenti hanya karena regulasi. Upaya pengendalian tembakau HANYA akan mengerem laju pertambahan perokok belia serta melindungi publik yang berhak atas udara bersih dan tak boleh dipaksa menghisap asap racun nikotin. Industri rokok mencoba menandingi hasil penelitian tentang bahaya rokok pada kesehatan manusia membayar ilmuawan untuk melakukan pnelitian yang hasilnya dapat dgunakan utk membntah penelitian yg bertentangan. Industri rokok membentuk lembaga riset sendiri yang kemudian disebut Tobacco Industry Research Committe (TIRC). Tugas tim riset ini adalah melakukan riset untuk “wisely answering the challenge of medicine” tidak lain dan tidak bukan ini tujuannya adalah memelihara kontroversi dan membodohi publik nih Strategi industri rokok dalam menghadapi upaya pengendalian tembakau dilakukan melalui berbagai cara.

(1) memanfaatkan perokok setia utk melawan dg dalih bahwa pengendalian akan melanggar hak asas perokok dalam mencari kenikmatan.

(2) menciptakan dan memanfaatkan kontroversi pendapat mengenai rokok antara lain dg menimbulkan keraguan terhadap hasil2 penelitian medik.

(3)memanipulasi data&fakta dg menggunakan media utk kepentingan mereka. Ex:mengemukakan betapa rokok telah menyumbang kepada ekonomi negara.

(4)menyebarkan mitos tentang risiko pengendalian konsumsi rokok bagi kehidupan rkyat kecil. Ex: petani, pedagang rokok, pekerja pabrik rokok

(5) menyuap para politikus yang dianggap mempunyai kekuasaan untuk menentukan dan menghalangi kebijakan pengendalian konsumsi rokok.

Diantara negara Asia dan anggota OKI, hanya Indonesia yg tidak menandatangi/mengaksesi FCTC. padahal awalnya ikut menyusun rancangan FCTC. Sampai pertengahan th 2011, 174 negara dari 193 negara anggota WHO sudah menandatangi FCTC. China, Kuba , Rusia, Korea Vietnam pun sudah. Bodoh saja bagi mereka yang mengira bahwa negara2 itu tunduk pd tekanan kapitalis. Politisi diparlemen kita bilang, bahwa FCTC dan pengaturan konsumsi rokok merupakan desakan kapitalis. so, kalo gini siapa yang kapitalis?!

Pemerintah kita ternyata telah melakukan kebijakan diskriminatif terhadap pengaturan produk yang dianggap adiktif. Perhatikan ! saat membuat aturan tentang alkohol, adakah mereka menganggap pelaku industri minuman alkohol sebagai stakeholder?. Perhatikan ! saat membuat aturan tentang ganja sebagai bahaya, adakah mereka berbicara dg petani ganja di Aceh ?Perbedaan sikap sangat kentara ketika mau membahas tentang regulasi pengendalian tembakau, RUU, RPP. FCTC, dll. Ini jelas terbukti dan menunjukan bahwa DESAKAN Indutri ROKOK telah berhasil melemahkan mental pejabat dan politikus RI.

*tepuk2pipi* Sadar kawan, kita menghadapi strategi dilute, delay dan delete yang dilakukan oleh Industri rokok terhadap upaya pengendalian.Industri rokok di Indonesia melakukan berbagai pembohongan, manipulasi data dan fakta dengan kekuatan uangnya yang nyaris tak terbatas. Opini publik digiring ke level Ekstrem, regulasi ditegakkan maka industri rokok akan mati besok pagi, sehingga jutaan orang kehilangan pencaharian. ahh, berlebihan sekali Industri ini T__T. Kekhawatiran yg berlebihan, simplistik dan tidak realistis ya guys 😀

Secara ada puluhan juta orang Indonesia sudah kecanduan rokok. tenang aja, pasar rokok ga bakal sepi koq. Mustahil banget kalo pecandu rokok itu bakal berhenti merokok hanya karena ada Regulasi pengendalian konsumsi rokok. Industri rokok banting tulang untuk membangun citra yang gemilang dan kinclong dimata publik. Caranya baik lewat iklan, sponsorship, maupun aneka ragam program kegiatan CSR, tanggung jawab sosial perusahaan. Selain menyerap banyak tenaga kerja, mereka juga mencitrakan sebagai pahlawan yg memberi sumbangan besar thdp pendapatan negara. Gak peduli tuh si Industri rokok apakah kontribusinya berimbang dengan biaya kesehatan dan kualitas produktivitas bangsa.

Piramida Industri rokok teramat runcing. aliran keuntungan hanya membanjiri segelintir juragan2 yg menjdi langganan daftar orang kaya di majalah. Selain pemilik industri rokok, biro iklan dan media juga mendpatkan potongan gede lho. Ah, coba liat piramida dilapis bawah. miris.. buruh pabrik, petani tembakau cuma dapet remahan keuntungan dari produksi ini. Para pelinting yg terpapar langsung dengan nikotin ditempat kerja bahkan bekerja tanpa tunjangan kesehatan.

Yuukkk kita liat kondisi piramida paling bawah dari industri rokok —-> petani dan buruh pabrik. Buruh diberi jatah melinting 2500 batang rokok sehari. upahnya Rp. 9000/1000 batang. sebulan mereka dapat Rp. 540.000. Kalo disetarakan dengan UMR disana yang besarnya Rp. 802.000 masih jauh untuk mensejahterakan mereka. Upah ini mereka dapatkan dengan harus bekerja setiap hari. ga boleh absen krn sakit, apalagi bolos. (kalo gue bolos kuliah msh dpt ongkos..hehe)

Bicara tentang Petaninya, hmm ga kalah miris dengan buruh pabrik :(. Buruh tani di Kendal, Jateng : upah Rp. 15.889/hari atau Rp. 413.374/bulan, kasian angkanya ga sampe separuh UMR Rp. 883.699. Kalo di bojonegoro upah Rp. 17.256/hari atau Rp. 451.656/bulan, sementara UMR nya Rp. 630.000 Haduuh, lagi2 lebih banyak dari UMR nya :(. Lain lagi di Lombok, upah Rp. 13.920/hari atau Rp. 361.920/bulan, kurang dari UMR yang Rp. 730.000 sebulannya. #nocoment

maaf guys.. itu tadi buruh taninya, sekarang petaninya nih…*simak*

Biaya produksi tanaman ini mencapai Rp. 8.386/m persegi lahan sekali masa tanam, hasilnya Rp. 12.448. jadi cuma dpt untung Rp. 4000/m lahan. Masih ada lagi persoalan yg dihadapi petani tembakau. contoh kasus pada 2 musim tanam terakhir,2009 &2010, petani tembaku di lombok RUGI. Penyebabnya:

1. hrga bahan bakar melonjak sehingga keseluruhan ongkos tanam juga ikutan.

2. fluktuasi cuaca yg ekstrim sehingga tanaman tembakau tidak tumbuh optimal.

Rentang harga daun tembaau bisa teramat lebar, yakni Rp. 40.000 utk grade A, dan Rp. 4000 untk grade D. Cilaka duabelas buat petani tuh :(. Patokan grade daun tembakau ditentukan oleh tengkulak dan pengepul. mereka seenak udelnya memainkan harga. *tonjoktengkulak*

Curhatan petani : “kami ini nanem tembakau dg modal utang. harusnya pemerintah yg netepin harga. bukan seenaknya cukong, pemerintah bisa memberi sanksi klo ada pengusaha yang menolak, atau tutup gudangnya, ap pemerintah tkut sama cukong?” bgitu katanya. Petani tembaku berada dalam posisi tak berdaya. Mereka bagai terjerat lingkaran setan. Lazimnya, modal tanam tembakau didapat dari utang, atau jika tidak mereka harus menjual atau menggadaikan aset keluarga. Padahal hasil panennya masih Gambling. kalo lagi mujur kebayar utangnya. nah kalo nggak, gimana?! #mikir

Kepastian tengkulak membeli hasil panennya merupakan hidup mati para petani. makanya petani mudah dimobilisasi utk berdemo. Mereka malah bayar Rp. 150.000 untuk ongkos berdemo sewa bis. ancamanya kalo ga bayar dan ikut demo tembakau nya ga dibeli cukong.

idiiiihhh… *jitak cukong*

Sebenernya produksi tembakau di Indonesia masih belum mencukupi kebutuhan lokal yang kian pesat 160.000-190.000 ton/thn. Alih2 menguatkan daya tawar petani dan memacu produksi tembakau, akhirnya industri melakukan jalan pintas. IMPOR. dan IMPOR ini terus tnggi. Dari situ bisa disimpulkan bahwa klaim industri rokok yg memeprjuangkan kesejahteraan buruh pabrik, buruh tani dan petani TERGOYAKAN. Klaim bahwa industri rokok memperkokoh perekonomian kita semakin goyah jika melihat besarnya ongkos kesehatan yang ditanggung publik. Ongkos kesehatan yg ditnggung publik tak akan bisa ditandingi oleh triliunan rupiah dari cukai rokok. Tahun 2010, 62 triliun kontribusi cukai untuk Indonesia. namun sayang, itu dibayarkan oleh PUBLIK alias perokok. BUKAN OLEH INDUSTRI *sadar*

Menjajakan rokok seperti produk coklat tanpa dosa. harus di evaluasi, dikritik dan diperbaiki dg menempatkan publik sebgi pertimbangan utama. kekuatan lobi industri rokok memang sudah tidak terbantah. di Amerika pun terjadi. industri rokok memiliki akses figur2 yg dihrmati publik dari mulai perdana menteri Margaret Thatcher sampai senator Howard Baker. Di Indonesia gak kalah seru. Seorang wartawan kompas menemukan mobil berplat polisi 234(dji sam soe) mondar2 di parkiran Istana. Namun saat kedekatan SBY dengan Boedi Sampoerna diungkit2 dlm kasus Bank Century, mobil itu ga keliatn lgi di parkiran Istana negara. Di dlm dokumen British American Tobacco, seorang petinggi perusahaan ini menyebutkan direktorat bea cukai,dep. keungan RI sbg anak perusahaan. Kedigdayaan lobi dan kedekatan industri dengan penguasa memang kisah yg tak habis2. Ada film “the insider n thank you ofr smoking” film ini mengilham kisah2 dari kedigdayaan lobi2 industri rokok. *saya belum nonton jga*

Publik, memang gampang terpengaruh dan terbawa arus. harus dilindungi dari agresivitas pemasaran rokok. Tidak peduli orang dewasa merokok atau tidak, asal tetap menghormati hak non perokok untuk mendapat udara bersih ! Industri rokok sebagai perusahaan yg menjual produk beracun dan kaya akan Mudharat bagi kesehatan seharusnya LOW PROFILE. Tidak gembar-gembor dan sadar diri, tidak bersikap agresiv dan jumawa. Sayangnya agresivitas industri ini dengan mudah disaksikan oleh jutaan pasang mata, berbagai macam usia dan media. Billboard, poster film, spanduk raksasa, panggung pentas musik dan umbul2 dilapangan olah raga menunjukan kegagahan industri rokok. Tampil berani, mentereng, khas anak muda mencoba ditampil kan dengan kemasan menarik untuk cari mangsa. Tujuan mereka memangsa kaum muda adalah menjaga keberlangsungan pasar hari ini dan esok. #scare. Maka darii itu kenapa kelompok dewasa ga jadi target ideal dari industri rokok. seleranya jga udah ada patokan 😀

Begitu pekat kepungan iklan rokok sampai kita merasa tak ada yang aneh, tak merasa telah dibombardir dari segenap penjuru.
Wujud kepedulian kita untuk mendorong regulasi rokok lebih berpihak pada kesehatan publik. tidak melihat sistim kapitalisme atau apapun ! Dan kesehatan serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab kita. Menuding keterlibatan pihak asing dalam upaya pengendalian tembakau sama saja merendahkan akal sehat & menghina publik utk mendpt hdup sehat!

Berbohong Itu Baik

Lagi2 ketemu buku asik!

Judulnya “Born Liars – Why We Can’t Live Without Deceit”, oleh Ian Leslie

Begitu gw ngeliat premise-nya, gw langsung tertarik. Ini adalah buku yang didedikasikan pada perilaku “berbohong” pada spesies manusia, ditinjau dari berbagai aspek: psikologi, neurologi, budaya, sampai ekonomi. Dan kesimpulan si penulis cukup mengejutkan: berbohong adalah sifat alami manusia, dan tanpa kebohongan spesies manusia mungkin sudah punah. Mengejutkan, karena kita semua dibesarkan dengan paham bahwa “kejujuran” adalah di atas segala-galanya, dan “berbohong” adalah penyimpangan, atau dosa, atau pelanggaran, yang sebisa mungkin harus dilenyapkan. “Bohong putih” pun dipandang sebagai suatu kompromi, situasi khusus dimana “hasil akhir” terpaksa membenarkan perbuatan yang salah (misalnya, sepasang suami-istri mengalami kecelakaan mobil. Sang suami selamat walau luka parah, dan sang istri langsung meninggal. Dokter mungkin berbohong dulu pada sang suami yang sedang dirawat sampai dia cukup ‘kuat’ untuk menerima berita duka tersebut)

Ian Leslie menulis buku ini mirip dengan gaya Malcolm Gladwell. Dia merangkai berbagai kisah dari berbagai sumber, dari jurnal ilmiah, sampai kisah-kisah sejarah unik abad 16, sampai riset otak manusia termutakhir. Salah satu bagian dari buku tersebut yang pengen gw share adalah mengenai sifat manusia yang senang membohongi dirinya sendiri.

Berbagai studi menunjukkan, manusia cenderung meng-overestimate diri mereka sendiri. Kita semua merasa diri kita: lebih pintar, lebih cakep, lebih sehat, lebih bijak, lebih rasional, lebih pintar menyetir, lebih bagus menyanyi, dll dariyang sebenarnya. Dalam sebuah studi, 80% responden merasa kemampuan menyetir mereka di atas rata-rata. Atau lihatlah audisi reality show Idol2an. Banyak yang keliatannya benar2 yakin mereka terlahir sebagai penyanyi, walau suara mereka bisa membunuh kelelawar dari jarak 2 km.

Ada beberapa macam dari “positive illusions”:

1. Exaggerated confidence in our own abilities and qualities. Kita suka meng-overestimate kemampuan atau kualitas diri. Seperti contoh peserta idol di atas. Kita juga merasa diri kita sendiri lebih obyektif, lebih tidak bisa ditipu, lebih sabar, lebih penyayang, dan lebih macam-macam lain dari kenyataan yang sebenarnya.

2. Unrealistic optimism. Atau optimisme yang tak berdasar/tidak realistis. Kita menilai masa depan kita secara tidak realistis. Kita merasa pacar kita adalah untuk selamanya, atau pernikahan kita akan penuh dengan seks dahsyat yang mengguncang pulau Jawa, atau bisnis baru kita akan untung besar 2 menit sesudah diresmikan, kita merokok, makan makanan berkolesterol, dan yakin akan tetap sehat, dll.

3. Exaggerated sense of control. Kita merasa mempunyai kontrol atas hidup kita yang tidak realistis. Kita pede dengan gelar MBA, MM, MLM, dll maka kita akan lebih sukses. Atau kita pede dengan kemampuan sepik kita cewek-cewek akan jatuh bergelimpangan di kaki kita, dll.

Sebagian besar manusia membohongi diri mereka sendiri setiap saat, setiap waktu. Kita semua hidup dalam “ilusi positif” yang jauh dari realita. Tetapi, semua “kebohongan diri sendiri” itu justru penting untuk kelangsungan hidup kita, karena kita menjadi mau untuk hidup. Walaupun gelar sarjana banyak tidak berguna dalam kesuksesan kita, kita kuliah dengan susah payah mengejar nilai yang baik. Walaupun relationships banyak tumbang, kita tetap percaya suatu saat kita akan ketemu soul-mate kita. Walaupun banyak pernikahan berakhir dengan perceraian, kita percaya itu tidak akan menimpa kita. Walaupun tim bola belum pernah masuk World Cup, kita semua berharap suatu saat kita bisa menundukkan Inggris, Itali, Brazil sekaligus. Walaupun 80% dari produk baru berakhir dengan kegagalan, perusahaan-perusahaan berlomba-lomba menciptakan dan meluncurkan produk baru. Dst, dst.

Apakah ada sekelompok manusia yang realistis, yang tidak hidup dengan ilusi2 positif di atas? ADA! Orang-orang ini punya penilaian yang akurat terhadap kemampuan mereka, terhadap masa depan, dan terhadap kendali mereka atas hidup. Mereka tahu realita yang benar. Para psikiater menyebut orang2 iniclinically depressed (menderita depresi klinis).  Dalam berbagai studi, orang-orang depresi justru menunjukkan persepsi akan realita yang lebih akurat daripada kebanyakan orang.

Ian Leslie menyimpulkan bahwa untuk bisa hidup, maju, dan berusaha, spesies kita harus hidup dalam kebohongan/ilusi yang kita sendiri tidak sadari. Ilusi positif bagaikan wortel yang diikat dan digantungkan di depan si keledai, agar si keledai mau terus bergerak maju. Jika kita terlalu berpijak pada realita justru akan berbahaya. Kita bisa malas menikah, beranak dan meneruskan keturunan. Kita akan malas berinovasi, mencipta, dan berkarya. Dan ujung-ujungnya, spesies ini bisa punah karena kehilangan kemauan untuk hidup.

Makanya gw jadi ngerti kenapa pelatih olah raga harus bisa menciptakan ilusi bahwa atlit binaan-nya adalah yang terkuat di dunia, tak kan terkalahkan. Gw juga ngerti kenapa orang-tua harus meyakinkan anak mereka bahwa ia adalah anak yang cakep, pintar, dan keren (walaupun aslinya kayak blasteran alien). Ilusi (positif), walaupun suatu kebohongan, jauh lebih sehat dari memahami realitas yang sebenarnya.

Menarik banget ya buku ini? :)