Something Left To Say

I’ve been silent these past couple of days, partially because I’ve been trying to listen. Although I’ve been quiet online, I’ve been keeping busy. A lot has happened in the past few months. And yet I feel a vague sense of discomfort. PANAS EUY PANAS KALI SOCMED AKHIR-AKHIR INI!

Regardless of whom you supported at the polls, this year has been exhausting. If you woke up this morning feeling like you desperately need a break, you’re not alone. I’m not politician. I never liked the label for myself. I’d rather think of myself as a learner. Sometimes it’s not clear what exactly needs to be said, or what form it will take, or even whether it will have any impact on the world. I don’t always know how to sculpt the right words or paint what I’m describing. I have no idea whether it will take months or years to tell the story I want to tell. But as long as I feel I have something interesting left to say, I’m going to keep saying it.

Saya bukan Tuhan, yang layak memberi label hitam atau putih. Terlepas dari isu politik belakangan ini pun saya mungkin tak ada kapasitas untuk berbicara karena saya bukan siapa-siapa. Hal yang menjadi fokus saya adalah, betapa orang di dunia maya itu bisa menjadi begitu ‘luwes’ berkomentar lewat jari jemari. Mulai dari penampakan fisik orang lain, keputusan-keputusan yang diambil seseorang, kehidupan seseorang, gosip dan masiiiiih banyak lagi dari hal yang berat sampai yang receh-receh. Continue reading

City Lights Overlooking and Star Gazing at Pondok Kopi Umbul Sido Mukti

Hello folks!

I guess time really does fly when you are having a blast … I’d like to take a minute to share some memories from my weekend getaway to Pondok Kopi Umbul Sido Mukti. It has been my dream to go to a place where I’ll be looking metro’s busy city in a different way — city lights overlooking for short — and to lie down in a grass land, gaze the open skies and wait for shooting stars.

The best nights are usually unplanned, random and spontaneous. Agreeee!!

So to take away stress from working in the busy city, I packed my stuffs to my bag, then I met up with Tim Manggis (Iting, Opank, David, Rizky, and Iin). We left our homes about 10.00 pm in the night, and then we went to coffeshop until 3.00 am. Anyway, at around 3:30 am, after being awake for several hours we reached the destination. Here we go people!

It was absolutely pitch dark, so we need to rely on torchlights. Our next worry was waiting till sunrise in the blazing cold without freezing to death. But somehow we managed and it was worth it. Fyuuuh

Check out the pretty city lights!

IMG_20150907_151812 Continue reading

Le hijab: effet de mode ou réelle envie de se rapprocher d’Allah SWT ?

Je m’intéresse à tous les sujets, aussi sensibles, gênants ou prêtant à controverse soient. Je mets un point d’honneur à essayer de comprendre certaines thématiques et pousser la réflexion un tantinet plus loin que ce que je vois à la surface. Raison pour laquelle je vais parler du hijab aujourd’hui …

Ce qui m’a frappée au point de m’amener à me poser des questions depuis un certain temps, je vois beaucoup, mais alors, une multitude d femmes qui portent le voile autour de moi. Veulent – elles en faire une mode, ou au contraire cherchent – elles à se rapprocher de leur Créateur Allah SWT, et ainsi respecter Ses prescriptions ? Les réseaux sociaux, qui sont la vitrine de notre vie de tous les jours, permettent de se rendre compte de l’ampleur du phénomène. Pas un jour ne passe sans que je voie la création d’un Tumblr d’une hijabiste, d’une page Facebook, ou encore sur Instagram (à l’image des bloggeuses Dian Pelangi etc) … 

Le débat est ouvert …

Please Stop Animal Abuse

Hayo siapa yang gag tau kopi luwak? Rasanya pasti semua orang di negeri ini juga tahu, terlebih Indonesia adalah negeri dengan komoditas kopi yang beraneka ragam dan telah mendunia. Tapi pasti banyak yang gag ‘ngeh’ dengan kisah di balik proses pembuatan kopi luwak. Okelah semua orang juga tahu bahwa kopi luwak keluar bersama feses si luwak, tapi do you know penderitaan luwak di balik itu? Hmm..setelah saya tahu, saya jadi pikir-pikir kalo mau minum kopi.

Jadi ceritanya semalam saya abis baca kultwitnya @bambangelf tentang industri kopi luwak di Indonesia. Sumpah ya rasanya jadi miris dan ngilu setelah baca, tapi emang membuka mata banget syh. Thanks for sharing kakak. Ternyata proses produksi kopi luwak yg berlebihan adalah animal abuse loh !! Ceritanya begini …

Buah Kopi bukanlah makanan utama luwak. Luwak biasanya memakan kopi karena  biji kopi digunakan untuk membantu pencernaan luwak. Nah proses alaminya itu biji kopi keluar utuh bersama feses luwak. Namun ketika kopi luwak masuk dlm industri, maka luwaknya disiksa. Luwak diberi makan buah kopi lebih banyak dari yg biasanya dicerna. Kopi jadi makanan utama Luwak. Tubuh Luwak jadi mesin produksi deh!.

Sayangnya pencernaan luwak tak tahan mengkonsumsi buah kopi secara berlebihan demi target produksi kopi luwak sehingga luwak pun sampe BLEEDING ketika BAB !!. Berak darah (maaf) banyak terjadi pada luwak yg DIPAKSA makan buah kopi demi target produksi. This is incredibly upsetting and sad. 😦

Ketika para kelas menengah tertawa menikmati kopi luwak di kedai kopi mewah, sang luwak sedang berak berdarah-darah dikandangnya. So, apakah anda masih mau menyeruput kopi luwak? Silahkan saja, tapi ingat penderitaan luwak yang berak berdarah demi kopi yg anda seruput.

Tak jarang luwak pun diare, berak darah dan kemudian MATI akibat jadi mesin kopi luwak. Trus nangkap Luwak lagi untuk mengganti yg MATI. Inilah foto luwak dijadikan mesin kopi luwak yang hanya diberi makan buah kopi.. Its an animal abuse!!

Nah Kopi Luwak serupa dg FOIE GRAS (hati angsa berlemak, ini adalah salah satu makanan khas Prancis). Pada kasus ini angsa dipaksa makan berlebihan sampai sakit fatty liver yg parah kemudian disembelih. Kopi luwak dan foie gras adalah bentuk penyiksaan binatang dengan cara force feeding. Kalo pada kasus foie gras, angsa dipaksa gemuk dan disembelih. Sementara pada kopi luwak, luwaknya terpaksa berak darah sampe dia mati. Sebelum menyeruput kopi luwak ingatlah luwaknya sedang berak darah.

FYI nyh, gajah Sumatera kadang makan duren utuh untuk membantu pencernaan. Duren sudah gundul ketika keluar bersama tai gajah. Nah Duren ini enak banget, tapi … untungnya ga ada industri DUREN GAJAH. Kalo ada, pasti gajah dipaksa makan duren terus. Ancur dah pantat si Gajah.. NO NO NO.

Kembali ke topik, buat apa kita bangga kopi luwak sebagai kopi termahal di dunia kalo prakteknya ada animal abuse disitu. Sama seperti shark fin & foie gras. Buat saya, mengkandangkan luwak saja adalah animal abuse, karena pada dasarnya luwak bukan binatang domestik. Apalagi Force Feeding demi kopi luwak.

Please lihat deh video penderitan angsa yang dipaksa makan demi menghasilkan Foie Gras.. Stop Consuming Foie Gras!!

Kopi luwak sekarang ngejar kuantitas, bukan lagi kualitas. Sebelumnya kan emang dari luwak liar ya?. #Crueltytoanimals sama dengan peternak Prancis force feed angsa supaya livernya besar utk “foie gras”. I’m really sick and tired to see this animal abuse! Tambah sedih lagi baca hesteg #RIPPapaGenk … bener-benert out of words. Lagi-lagi seekor gajah harus mati sia-sia hanya demi sebuah gading?!!  This country is such an evil. No serious law banning ivory trade and illegal slaughter of animals. T_T

#RIPPapaGenk

#RIPPapaGenk

 

 

This is heartbreaking 😦 😦 😦

 

 

 

Ramadhan is Coming !!!

Halo everyone, a short update before I sleep again. Ramadhan 2013 is coming very soon. May this holy month bring you happiness, strengthen your Imaan, erase your sins and purify your heart ~

Pour tous pratiquants musulmans, ce mois sacré de Ramadan est l’occasion de se purifier de tous genres de péchés défendus, c’est aussi l’occasion de s’approcher du salut divin, et notre grand Allah, le bon Dieu. Ce mois de Ramadan nous fait méditer sur le sujet de la faim, et comment des milliers de gens, et surtout des centaines de musulmans qui meurent de faim chaque année, et ce, doit en toute humilité attirer notre attention.  Tous les musulmans doivent se poser de sérieuses questions sur le gaspillage et prendre conscience de la gravité de la pauvreté et les conséquences qui s’en suivent, dont la faim.

Afin d’eveilleles fidèles pour le sahur, l’appel à la prière retentit des mosquées de quartier. En outre, des groupes de jeunes garçons se promènent dans les quartiers, battant sur des tambours et des bruiteurs pour éveiller les fidèles (et leurs voisins) en criant “sahur, sahur”. 

Le changement d’horaires a un effet sur les affaires. Les restaurants et établissements de loisirs réduisent leurs horaires d’ouverture ou voilent leurs fenêtres de rideaux noirs pendant la journée. Les déjeuners d’affaires ont été remplacés par des repas de buka puasa (rupture de jeûne ou iftar). Le iftar en indonesie se dit : Buka Puasa ! Ceci est habituellement fait avec une boisson très douce et des collations sucrées. Mais auparavant, tous doivent souffrir dans les embouteillages records qui encombrent les rues au moment, juste avant le coucher du soleil, où chacun se presse de rentrer chez soi pour rompre le jeûne avec la famille.

O Allah, on this day make my fasts the fasts of those who fast (sincerely), and my standing up in prayer of those who stand up in prayer (obediently), awaken me in it from the sleep of the heedless, and forgive me my sins , O God of the worlds, and forgive me, O one who forgives the sinners.

.Happy fasting to all moslem around the world ❤

L’Art du Batik

Batik, siapa yang tak mengenalnya?

Pesonanya bahkan terkenal seantero dunia. Patutlah kita Bangsa Indonesia bangga akan kekayaan kita yang satu itu. Mungkin semua orang sudah tahu ya bagaimana proses batik itu dibuat. Saya syh sudah tahu, tapi baru pertama kali melihat prosesnya secara langsung secara lebih dekat saat kunjungan saya ke Yogyakarta. Saat itu setelah saya berkunjung ke Taman Sari, saya langsung meluncur ke sentra pembuatan batik. Lebih tepatnya syh toko yang menjual aneka batik yang membuka juga sesi melihat proses pembuatan batik secara langsung di pabriknya. Tapi…dudul banget saya lupa mencatat nama tokonya ya, pokoknya gag jauh-jauh dari area Taman Sari kok.

Sebuah batik mempunyai cerita yang panjang. Mulai dari proses pemilihan bahan pewarna yang tentunya bahan alami sampai proses pewarnaannya.

Le batik, du javanais titik (point),  est une technique  d’impression des étoffes. En Indonésie l’art du batik se transmet de génération en génération. Il  participe de l’identité culturelle, au travers des significations symboliques de ses couleurs et dessins. A ce titre est a été inscrit par l’Unesco au patrimoine immatériel de l’humanité. Un musée lui est consacré à Pekalongan, la Cité du Batik.

Bahan pewarna alami untuk batik

Bahan pewarna alami untuk batik

stage 20

Faire le motif de base sur un tissu blanc avec un crayon

Faire le motif de base sur un tissu blanc avec un crayon

stage 22

stage 30

stage 27

En fait, il y a deux types de fabrication du batik; la fabrication du batik à la main et la fabrication du batik imprimé.

La fabrication du batik à la main.

La fabrication du batik à la main.

La Fabrication du Batik à La Main

  1. Faire le motif de base sur un tissu blanc avec un crayon.
  2. Faire ce premier motif avec la cire suivant la ligne faite au crayon sur les deux côtes du tissu.
  3. Remplir certaines parties, des petits points de lignes et couvrir avec la cire aux larges parties.
  4. Couvrir de cire les parties que l’on veut tenir blanche jusqu’à la fin.
  5. Le plonger dans la première teinture de base.
  6. Couvrir ces parties avec la cire.
  7. Plonger dans la deuxième teinture.
  8. Plonger dans l’eau bouillante pour enlever toute la cire.
  9. Recouvrir le premier motif de base de points et couvrir les parties.
  10. Couvrir les parties teintées pour ne pas les mélanger avec les teintures suivantes.
  11. Plonger le tissu dans la dernière teinture.
  12. Remettre le tissu dans l’eau bouillante pour enlever toute la cire et le batik est fini !
La fabrication du batik imprimé.

La fabrication du batik imprimé.

La Fabrication du Batik Imprimé

  1. Imprimer les cadres du motif sur les deux faces du tissu avec un tampon special.
  2. Imprimer le motif de base sur les deux faces du tissu avec des tampon à cire.
  3. Couvrir avec des tampons de cire les parties qui doivent rester blanches jusqu’à la fin.
  4. Plonger le tissu imprimé dans la teinture de base.
  5. Enlever la cire sur les parties qui doivent avoir d’autres couleurs.
  6. Couvrir la couleur de base pour la proteger contre les teintures suivantes.
  7. Plonger le tissu dans la dernière teinture.
  8. Remettre le tissu dans l’eau bouillante pour enlever toute la cire et le batik est fini.

stage 25

Les Tampons

Les Tampons

La cire

La cire

stage 32

stage 33

stage 31

stage 34

Niatnya setelah melihat proses pembuatan batik pengen beli juga kainnya, tapi berhubung harga yang dipatok di toko ini relatif mahal saya jadi mengurungkan niat. Wajar syh berhubung tempat ini memang lebih ditujukan untuk wisatawan mancanegara.

Bertambah lagi satu ilmu saya! Sungguh perjalanan yang tidak hanya senang-senang doank, tapi bisa lebih mencoba menyelami khasanah budaya bangsa juga. PROUD TO BE INDONESIAN!

Trekking dari Punthuk Setumbu #RockOverIndonesia

Untung pagi ini saya iseng utik-utik draft yang berantakan, dan ternyata ada draft yang sudah lamaaaaa sekali ingin saya posting. Walaupun tanggalnya udah basi tahun kemarin, tapi semoga saja isinya masih bisa dinikmati yah. 🙂

Ini adalah review perjalanan saya di Punthuk Setumbu. Mungkin belum banyak yang tahu ya karena memang lebih populer di kalangan wisatawan mancanegara. Tempat ini tepatnya berada di Magelang, lebih tepatnya lagi di Desa Karangrejo, Jawa Tengah. Saya sendiri memulai perjalanan dari Yogyakarta pagi-pagi sekali agar bisa melihat sunrise dengan view Candi Borobudur dan sekitarnya. Do you know? Punthuk Setumbu merupakan salah satu spot terbaik untuk menyaksikan Borobudur Sunrise dari ketinggian 400 m dpl.

Berangkat dari hotel di Yogyakarta.

Berangkat dari hotel di Yogyakarta.

Sampai di sana kira-kira pukul setengah 5 pagi, dan pendakian pun dimulai….

Bagi yang tidak terbiasa mendaki gunung mungkin agak sedikit kaget dengan jalurnya yang terus menanjak. Tapi tenang saja level kesulitannya masih tergolong mudah kok. Jalan setapak yang terjal menembus kegelapan ditemani suara-suara binatang yang saya tak tahu itu apa. Kabut dan dingin menjadi teman setia.

Singkat cerita akhirnya saya sampai di puncak juga. Wah asik sekali ternyata dapat menyeduh teh/kopi yang diberikan oleh petugas. Dan…ada gardu pandang yang hampir seperti rumah pohon gitu deh. Awawawaw…jadi pengen manjat tapi udah keduluan dipake orang. 😦

Wisata Alam Punthuk Setumbu

Wisata Alam Punthuk Setumbu

Akhirnya saya mojok aja deh di pinggir bukit yang dibatasi pagar dari bambu sambil menunggu detik-detik kemunculan sunrise.

Beatiful corner

Beatiful corner

Sebenarnya agak sedih karena tidak bisa mengabadikan momen-momen ajaib ini dengan kamera lantaran masalah teknis. Alhasil pake hape aja deh daripada gag ada kenang-kenangan sama sekali. Janji deh next time kalo ke sini lagi kudu jauh lebih siap!.

stage 59

Berhubung nuansa magis dari Candi Borobudur yang berselimut kabut tidak bisa saya tangkap lantaran masalah teknis, akhirnya saya fokus memotret pemandangan lain. Huks 😦

stage 62

stage 65

stage 66

stage 67

stage 69

stage 71

stage 74

stage 76

stage 78

stage 79

stage 82

stage 86

Nah kalo pengen liat sebenernya foto yang saya incer itu pemandangannya seperti apa, liat saja video di bawah yang terdapat di iklan You C1000….cekidot!

 

Taman Balekambang, Bak Oasis Di Tengah Kota #RockOverIndonesia

Taman Balekambang merupakan taman kota seluas 9,8 Ha yang dibangun pada tahun 1921 oleh KGPAA Mangkunegara VII. Taman ini dibangun untuk putrid-putri tercinta, yaitu GRAy Partini Husein Djayaningrat dan GRAy Partinah Sukanta, yang figur keduanya bisa dilihat pada patung yang ada di dalam taman Balekambang. Maka dari itu area taman Balekambang ini pun dulu dibagi menjadi dua, yaitu Partini Tuin dan Partinah Bosch. Partini Tuin atau Taman yang terletak di Jl. Ahmad Yani, Surakarta ini bisa menjadi tujuan melepas penat sejenak dari teriknya matahari karena suasananya adem dan damai.

Menurut informasi yang saya dapat, Taman Air Partini terdapat kolam resapan yang luas dan juga berfungsi untuk penampungan air. Kolam ini juga bisa digunakan untuk wisata air dengan menggunakan perahu.

bale 12

Sedangkan Partinah Bosch atau Hutan Partinah merupakan area yang dipenuhi dengan berbagai tanaman dan pohon-pohon langka, seperti kenari, beringin putih dan lain sebagainya. Partinah Bosch berfungsi sebagai paru-paru kota. Dahulu taman Balekambang digunakan untuk tempat rekreasi keluarga dan kerabat istana mangkunegaran. Kemudian pada masa KGGPA Mangkunegara VIII, taman ini dibuka untuk umum. Dengan diselenggarakan pula berbagai hiburan rakyat seperti ketoprak lesung.

bale 4

Antara tahun 70an hingga akhir 80an, di kompleks taman Balekambang terdapat gedung yang digunakan sebagai tempat hiburan, yaitu panggung Srimulat. Bahkan aksi panggung Srimulat ini menjadi primadona hiburan kota Solo di masa itu.  Kini setelah revitalisasi pada tahun 2008, taman Balekambang kembali pada fungsi aslinya, menjadi taman kota. Taman Balekambang tidak hanya menjadi tujuan warga Solo, namun juga menjadi tempat tujuan wisata bagi wisatawan domestik maupun luar.

Saya dan teman-teman menikmati sekali suasana asri yang ada di Taman ini. Walaupun cuaca Solo hari itu panas, tapi sedikit tertolong dengan rimbunnya pepohonan. Ditambah lagi ada rusa liar yang bisa diajak bercengkrama bersama di rerumputan. cute!
bale 39

bale 40

Bermain dengan rusa...love it!

Bermain dengan rusa…love it!

Super cute!

Super cute!

Namun rasanya agak sedih melihat beberapa hewan harus terkurung dalam kandang. Yup! di Taman ini ada kebun binatang mini juga. Hewan yang ditampung meliputi ikan, ular, monyet, aneka reptil dan burung. Uhh…asian mereka, rasanya lebih pas kalau mereka berada di habitat aslinya deh. 😦

bale 25

bale 27

bale 28

bale 29

bale 30

bale 31

Tuh lucu-lucu kan hewan yang ada di Taman Balekambang, sayangnya mereka hidup tidak pada habitat aslinya.

Untuk mengakhiri perjalanan, saya berkeliling lewat jalur yang berbeda untuk menuju pintu keluar.

bale 52

bale 58

Kawah Ijen, The Largest Lake of Acid on Earth #RockOverIndonesia

Mengunjungi Jawa Timur tak lengkap rasanya jika tak berkunjung ke Kawah Ijen. Ijen merupakan satu komplek gunung berapi yang terdiri dari kawah gunung Ijen dan dataran tingginya. Kawasan ini terletak di tiga kabupaten yaitu Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Gunung Ijen atau lebih di kenal dengan Kawah Ijen, adalah salah satu gunung yang masih aktif sampai sekarang. Memiliki ketinggian 2.443 m dari atas permukaan laut, berdinding kaldera setinggi 300-500 m dan telah 4 kali meletus di tahun 1796, 1817, 1913 dan 1936.

Saya sendiri sudah 3 kali berkunjung ke Kawah Ijen. Dari ketiga kunjungan tersebut selalu ada cerita dan suasana yang berbeda. Juni-Agustus adalah waktu yang terbaik untuk mendaki, menurut saya syh. Sebab, pendakian saya yang ketiga agak sedikit kurang beruntung karena faktor cuaca ya ng berkabut dan mulai masuk musim hujan sehingga tidak bisa mendapatkan pemandangan yang maksimal.

Saya bermalam di Banyuwangi, tepatnya di hotel Ketapang Indah yang lokasinya di pinggir pantai!. Untuk menuju Kawah Ijen dari hotel saya sudah membooking jeep untuk keberangkatan esok. Biasanya saya berangkat dari arah selatan, bisa dilalui dari Banyuwangi pukul 4 pagi menuju Licin yang berjarak 15 Km. Dari Licin menuju Paltuding berjarak 18 Km dan diteruskan menggunakan Jeep atau mobil berat lainnya sekitar 6 Km sebelum ke Paltuding. Ini dikarenakan jalan yang berkelok, berbatu dan menanjak. Sebenarnya untuk waktu keberangkatan bisa bebas kapan saja, namun biasanya setelah jam 9 pagi kabut mulai muncul sehingga kurang bagus untuk mengambil foto.

bromo 74

Welcome drink dari hotel. Saking enaknya sampai lupa mau foto malah keburu abis. Kalau tidak salah namanya secang. enak!

Salah satu sudut favorit di hotel dengan interiornya yang antik.

Salah satu sudut favorit di hotel dengan interiornya yang antik.

The Dancer Statue

The Dancer Statue

Suasana resto di hotel

Suasana resto di hotel

bromo 77

bromo 78

Di depan resepsionis

bromo 79

bromo 81

bromo 85

bromo 87

Berhubung berangkat masih dalam suasana gelap gulita, jadi pemandangan selama perjalaanan menuju Kawah Ijen belum terlalu kelihatan. Namun saat perjalanan pulang, saat mentari sudah bersinar dengan terangnya, barulah kelihatan indahnya pemandangan.

Selama perjalanan menuju Kawah Ijen kita akan disuguhi persawahan, hamparan perkebunan kopi, cengkeh dll. Selain itu kita akan menembus belantara hutan tropis setelah melewati Paltuding. Suka sekali saat naik jeep di dalam kawasan hutan, berasa lagi off road dengan pemandangan ala Jurassic Park! Seruuu abiiis!

Mari mulai mendaki!

Mari mulai mendaki!

Semangat mendaki walau dingin menerjang. Untung nya kondisi jalan tidak terlalu ekstrem.

Semangat mendaki walau dingin menerjang. Untung nya kondisi jalan tidak terlalu ekstrem.

bromo 106

The Scenery

The Scenery

Berselimut kabut menuju puncak

Berselimut kabut menuju puncak

Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam, tapi itu tergantung kecepatan kita berjalan juga. Kawah Ijen sendiri kalau digambarkan bentuknya seperti pelana kuda. Dari puncak kita bisa melihat kawah sulfur yang begitu besar dengan warna toska. Jika ingin turun ke danaunya untuk melihat lebih jelas dibutuhkan paling tidak 30 menit untuk sampai di bawah. Itupun kita harus berjuang melawan bau belerang yang menusuk. Bagi yang tidak mampu jangan dipaksakan karena akibatnya bisa fatal, bisa menyebabkan pingsan juga bagi yang tidak kuat.

Kawah Ijen dilihat dari atas

Kawah Ijen dilihat dari atas

bromo 123

bromo 130

Berpapasan dengan penambang belerang saat turun menuju danau.

Berpapasan dengan penambang belerang saat turun menuju danau.

Saya memutuskan untuk turun menuju danau agar bisa mendapat pemandangan lebih jelas. Lagipula nanggung juga sudah jauh-jauh sampai ke sini tapi gag menikmati semua aspeknya. Cuaca dan kondisi badan juga mendukung. yay! semangat rapatkan masker wajah!

FYI nyh guys, untuk meredam aroma belerang yang kuat, basahi masker kalian dengan air dulu ya. Selain itu sediakan juga tisu karena di sini kita akan banyak mengeluarkan ingus akibat dari asap belerang ini.

Kejar-kejaran dengan asap belerang yang tertiup arah angin.

Kejar-kejaran dengan asap belerang yang tertiup arah angin.

Ayo semangat pak!

Ayo semangat pak!

Mendaki Kawah Ijen itu benar-benar campur aduk rasanya. Antara seneng bisa melihat keindahannya dan sedih melihat perjuangan para penambang belerang. Mereka berjuang dari pagi sampai sore kira-kira pukul 4. Uang yang didapat tak sepadan dengan perjuangan mereka. Harga belerang kurang dari seribu rupiah per kilogram. 😦

Belum lagi melihat pundak mereka yang luka-luka akibat memikul beban berat. Menurut info yang saya terima, harapan hidup para pekerja juga tidak lama, berkisar di angka 40an.

Semakin mendekati dasar.

Semakin mendekati dasar.

Sudah sejauh ini saya turun.

Sudah sejauh ini saya turun.

bromo 157

Hore sampai juga di dasar!

Hore sampai juga di dasar!

bromo 162

bromo 163

Kabutnya tebel pisan syh. :(

Kabutnya tebel pisan syh. 😦

bromo 166

Rapat dari ujung rambut sampai ujung kaki!

Rapat dari ujung rambut sampai ujung kaki!

bromo 169

bromo 170

Bersama teman perjalanan saya kali ini. :)

Bersama teman perjalanan saya kali ini. 🙂

bromo 173

bromo 178

 

I love the color!

I love the color!

bromo 180

 

 

Okai deh hari semakin beranjak siang. saatnya kembali ke hotel !

Alhamdulillah…Terima kasih Ya Allah Engkau berikan kesempatan untuk menikmati indanya ciptaanMu ini. Semoga hamba masih Engkau berikan kesempatan untuk melihat indahnya dunia.

 

Jeep yang menemani selama perjalanan.

Jeep yang menemani selama perjalanan.

 

Eiiits…kelupaan. Sebenarnya pengen banget lihat blue fire kalau ke Kawah Ijen. Secara gitu ya cuma ada 2 di dunia ini. keren kan? Maybe next time kali yah. 🙂

 

 

 

Pantai Indrayanti, Nuansa Moderen di Tengah Liarnya Alam Gunung Kidul. #RockOverIndonesia

Tak jauh dari kawasan Pantai Sundak terdapat satu pantai yang lokasinya relatif dekat yaitu Pantai Indrayanti. Sebenarnya ada pantai yang lebih terkenal yaitu Baron, Krakal dan Kukup. Namun karena saya sudah pernah ke sana dan kebetulan saya ingin menjelajah tempat yang benar-benar baru untuk saya maka dipilihlah Pantai Indrayanti. Belakangan saya baru tahu kalau sebenarnya Indrayanti bukanlah nama pantai, tapi nama pemilik cafe dan restoran. Akan tetapi nama Indrayanti lebih terkenal dari pada nama aslinya yaitu Pantai Pulang Syawal.

Akses ke pantai Indrayanti saat ini sudah bagus, jalan yang mulus memudahkan kita dalam berkendara namun tetap berhati-hati ya karena keberadaan jalan di kawasan selatan daerah Kabupaten Gunung Kidul ini rata rata banyak kelokan, tanjakan dan turunan curam.

Berpose di dinding karang yang menjulang di  Pantai Indrayanti.

Berpose di dinding karang yang menjulang di Pantai Indrayanti.

Waktu paling pas mengunjungi pantai menurut saya saat pagi sampai menjelang siang dan sore karena matahari belum terlalu terik. Jika melihat sepintas pantai ini saya jadi teringat pantai Kuta di Bali. Ombaknya sedikit garang dan banyak kafe, restoran ataupun penginapan di sekitar pantai. Hmm…rupanya pantai ini mengusung sedikit nuansa moderen. Penataan dan konsep modern dalam pantai ini jelas sekali terlihat peralatan atau sarana yang  disediakan, ada jet sky, bahkan pantai ini memberikan denda bagi siapa saja yang membuang sampah sembarang, jadi  biasakan membuang sampah pada tempatnya ya!. Ini sangat berpengaruh terhadap kebersihan yang dapat kita nikmati di Pantai ini. Namun jangan berpikiran kalau penataan tersebut mengurangi keasrian pantai ini. Justru dengan konsep konsep ini keasrian pantai ini semakin terlihat lebih indah.

Berjemur biar kulitnya eksotis. hihi :p

Berjemur biar kulitnya eksotis. hihi :p

 

Kokohnya batu karang.

Kokohnya batu karang.

 

Ini namanya ngantuk salah alamat!LOL

Ini namanya ngantuk salah alamat!LOL

 

Mendaki batu karang, melawan teriknya sang surya.

Mendaki batu karang, melawan teriknya sang surya.

 

Sayang sekali saya tidak sempat mengabadikan foto yang bagus karena tiba-tiba banyak sekali pengunjung berdatangan yang membuat suasana menjadi kurang sip untuk mengambil foto yang aduhai. 😦

Tapi saya cukup puas, setidaknya rasa penasaran saya selama ini sedikit terobati. Dan tentang Gunung Kidul, masih banyak tempat yang ingin saya kunjungi!

 

@NcisLuscious – “Gunung Kidul, Awesome Place!”